jump to navigation

Manufactured Uncertainty October 17, 2007

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
comments closed

Ketika umat manusia memasuki milimium baru, tidak sedikit mata dan perhatian yang menatap cemas dengan ancaman Y2K. Dari negara maju sampai negara paling tidak berkembangpun, perhatian terhadap persoalan ini tidak kecil. Banyak sekali orang yang mengambil antisipasi berlebihan. Ada yang membeli diesel – karena tidak yakin listrik akan terus menyala, ada yang melakukan print out terhadap saldo di bank, ada yang amat takut terbang di pergantian milinium, ada yang mengharamkan penggunaan kartu kredit , ada saran untuk tidak menggunakan lift, ada yang mengungsi dari jalur penerbangan, sampai dengan menimbun bahan bakar dan bahan makanan secukupnya. Namun, begitu milinium berganti tanpa gangguan terlalu berarti, banyak orang yang merasa tertipu.

Ini sebenarnya hanya salah satu contoh dari apa yang pernah disebut Anthony Giddens dengan manufactured uncertainty. Semacam ketidakpastian yang hadir sebagai akibat dari teknologi buatan manusia sendiri. Kalau boleh jujur, deretan ketidakpastian ini masih bisa ditambah secara amat panjang. Gejala pemanasan bumi, rusaknya lapisan ozon, polusi, hama dan virus yang muncul dari perkembangan teknologi pertanian dan kedokteran, ancaman musnahnya bumi oleh nuklir, dan sederetan bukti lainnya.

Krisis ekonomi Asia yang berawal di tahun 1997, sebenarnya bisa juga dimasukkan dalam hal ini. Dengan semakin majunya e-economy, negara manapun dengan cadangan devisa berapapun tidak berdaya dengan ancaman para spekulan. Hanya dengan beberapa hentakan transaksi di atas key board komputer, cadangan devisa negara manapun bisa tumbang.

Saya telah lama pernah menulis, kehadiran teknologi tidak saja bersifat enabling, namun juga constraining. Secara lebih khusus yang berkaitan dengan teknologi informasi, kita terlalu terpaku pada fungsi automating dan informating. Padahal, dalam dirinya juga terbawa fungsi reformatting. Atau, teknologi informasi bisa memformat ulang cara kita hidup dan bekerja. Tanpa persiapan memadai, kita akan “dibuat” oleh teknologi ciptaan kita sendiri. Teknolog memang tidak pernah mempersiapkan kita secara memadai, bagaimana menghindarkan diri agar tidak diformat ulang oleh teknologi. Yang jelas, setuju tidak setuju, suka tidak suka, teknologi telah dan sedang mengarahkan kita menuju manufactured uncertainty.

(more…)

Advertisements

Indonesia Pensiun October 15, 2007

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
comments closed

Ada satu penyakit kejiwaan yang amat ditakuti mereka yang akan dan telah pensiun: post power syndrome. Semacam kekecewaan terhadap hidup, diakibatkan karena yang bersangkutan tidak lagi dihormati dan dipuji seperti ketika masih berkuasa. Titik pensiun, demikian sejarah sejumlah orang bertutur, adalah mirip dengan titik percepatan kematian. Di usia ini, banyak orang mulai rajin melihat iklan duka cita. Sebuah kegiatan, kalau boleh jujur, yang sebenarnya juga mempercepat kematian. Sebab, sebagaimana diyakini oleh pendekatan magnetic power of thought, fikiran yang sering diisi oleh bayangan tentang kematian, akan membawa kita ke tempat yang sama.

Bila menggunakan ukuran umur pensiun orang Indonesia yang berjumlah 55, maka tahun ini Indonesia memasuki usia pensiun. Bila penyakit barometernya, sinyal-sinyal pensiun sudah mulai kelihatan. Timor Timur yang kisruh, Aceh yang tambah bergejolak, Ambon yang rusuh tiada henti, Riau dan Irian yang mulai berhitung tentang hasil buminya yang diboyong Jakarta, Bali yang pernah dilanda isu mau merdeka, ancaman bila calon presiden tertentu tidak terpilih maka Indonesia Timur akan menjadi negara sendiri, dan masih banyak lagi deretan sinyal sejenis.

Bagaimana dengan post power syndrome? Ini juga memiliki banyak bukti. Kalau boleh berterus terang, nasib republik ini yang sedang berantakan di sana-sini, sebenarnya amat diwarnai oleh perilaku sejumlah pensiunan dan calon pensiunan.

Suharto ketika mau turun tahta, berhadapan dengan pensiunan seperti Barisan Nasional. Habibie juga sama, nasibnya dibuat tidak mujur oleh sejumlah pensiunan yang bermain money politics. Sejumlah menteri yang sudah tahu umur kabinetnya tinggal beberapa hari – di zaman Habibie, segera memensiunkan diri dengan alasan-alasan yang patriotik namun tidak simpatik. Belum lagi bila ditambah dengan diskursus publik kita yang dibuat amat kisruh oleh banyak sekali pensiunan. Singkat cerita, Indonesia bukan tidak mungkin akan turut dibawa pensiun oleh sejumlah pensiunan.

(more…)

Kesederhanaan Pangkal Kebahagiaan October 10, 2007

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
comments closed

Setiap bentuk kejadian dalam hidup, saya yakini, selalu menghadirkan makna. Perjalanan hidup sebagai konsultan, kerap membuat saya harus bergaul intensif dengan sejumlah orang kaya dan berada. Berbagai macam pengalaman telah saya lalui bersama mereka. Ada yang menyenangkan seperti bermain golf, jet ski, menginap di hotel berbintang sampai dibelikan barang-barang mewah. Ada juga yang menyengsarakan, seperti dimarahi istri klien tanpa tahu sebab musababnya, digoda ikut masuk ke dalam kehidupan-kehidupan menyimpang, dan masih ada lagi yang lain.

Syukurnya, sampai sekarang saya masih bisa menjaga jarak secara seimbang terhadap semua ini. Namun, ada satu hal yang menggoda saya untuk diulas di sini. Orang yang kaya materi, tidak sedikit yang menyesali hidupnya. Jarang berkata syukur ke Tuhan. Sejumlah kekayaan yang diwariskan orang tua mereka, kerap malah membuat kehidupan penuh perkelahian, kebencian dan perselisihan.

Tidak sedikit keluarga pewaris saham perusahaan besar, yang selama hidupnya berkelahi tiada hentinya. Ditandai oleh banyaknya segi tiga kebencian. Kecurigaan terhadap setiap anggota keluarga. Digabung menjadi satu, kekayaan yang dikumpulkan secara susah payah oleh generasi pendahulu, tidak membuat hidup lebih mudah, malah sebaliknya membuat semuanya jadi sengsara.

Memang, ada banyak sebab yang bersembunyi di balik fenomena ini. Namun, satu hal pasti, ketidakmampuan untuk hidup dan berfikir sederhana, telah membawa mereka pada lautan kehidupan yang penuh dengan tekanan.

Saya mensyukuri sekali kehidupan yang bergerak perlahan dari tataran yang sangat bawah. Ketika masih mengontrak dari satu rumah kecil ke rumah kecil yang lain, rasanya bahagia sekali kalau bisa memiliki rumah BTN. Ketika masih bergelantungan di bus kota, rasanya nikmat sekali jika bisa punya mobil. Tatkala hidup dengan makan sangat pas-pasan, selalu terbayang enaknya makan dengan daging yang memadai. Saat anak masih sekolah di sekolah negeri sederhana di pinggiran Jakarta, ada cita-cita agar mereka bisa masuk di sekolah terkemuka.

(more…)