jump to navigation

Biarawan Yang Menjual Ferrarinya August 17, 2007

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
trackback

Ketika membaca judul buku Robin Sharma The Monk Who Sold His Ferrari, saya merasakan sebuah sentuhan. Bayangkan, mana ada seorang biarawan yang memiliki Ferrari. Disamping itu, mobil mewah terakhir malah mau dijual.

Lebih tersentuh lagi, ketika selesai membaca buku menggugah ini. Sebagai seorang konsultan yang biasa bergaul dan berinteraksi di kalangan menengah atas, betapa tersentuhnya saya dengan ajakan-ajakan menyentuh seperti joyful thought, look within for success, value time as your most important commodity, nourish your relationship dan live life fully.

Mari kita mulai dengan joyful thought. Sebagaimana pernah saya tulis di kesempatan lain, kita memang sedang memproduksi biokimia dan biologi tubuh kita melalui apa yang kita fikirkan. Sebagaimana pernah dikutip oleh Deepak Chopra, wanita yang bercerai – dari hasil penelitian dengan sampel ribuan – memiliki kemungkinan terkena kanker payudara lebih besar dibandingkan dengan yang tidak bercerai. Dari contoh dan bukti yang masih bisa ditambah ini, terlihat jelas, bahwa fikiran memproduksi kehidupan. Mungkin ini kedengarannya klise, tetapi saya mempercayai sekali kekuatan berfikir positif. Seperti sebuah pepatah Cina : “Don’t curse the darkness, light a candle“. Dibandingkan mengutuk kegelapan, jauh lebih berguna langsung menyalakan lilin.

Bila kegiatan ‘menyalakan lilin’ jauh lebih banyak dibandingkan ‘mengutuk kegelapan’, jangan pernah khawatir dengan kehidupan. Kesehatan, hidup yang cukup, rezeki, kerukunan, kearifan dan hal sejenis, akan mengalir sejalan dengan semakin banyaknya kegiatan menyalakan lilin.

Berkaitan dengan look within for success, ada semacam kerancuan dalam cara manusia mencari keberhasilan. Tidak sedikit orang yang mencarinya di luar diri. Dalam bentuk rumah, merk mobil yang digunakan, jabatan yang diduduki, baju dan jam tangan yang dikenakan dan bentuk-bentuk sejenis. Sebagaimana pernah disarankan oleh seorang rekan warga Amerika ke saya : “you are more than your money, your job and your tittle“.

Mengidentikkan keberhasilan dengan atribut-atribut di atas, tidak saja mudah hilang dan tidak kekal, tetapi juga menghasilkan keterikatan yang berujung pada ketakutan.

Bagi saya, tubuh ini seperti sebuah air terjun yang amat indah. Disamping menyimpan banyak misteri, ia juga menunggu keheningan fikiran sebagai syarat untuk bisa tidaknya keindahan tadi dinikmati.

Nah, mereka yang demikian sibuk mencari atribut di luar, sudah lama dibuat buta dan tuli dengan keindahan air terjun di atas. Anda boleh coba, biasakan setiap hari melepas semua atribut. Dari mobil, rumah, jabatan sampai dengan sebutan orang lain. Awalnya, ada suasana terpaksa. Namun, begitu ia menjadi biasa, keindahan air terjun di atas mulai bisa Anda lihat.

Tentang waktu sebagai kekayaan paling berharga, saya punya pengandaian berguna. Bila uang tidak dipakai hari ini, masih bisa dipakai besok. Tetapi, bila hari ini tidak kita pakai, ia akan menguap begitu saja tanpa bekas.

Padahal, untuk memakai waktu hari ini, tidak diperlukan tenaga dan energi ekstra. Cukup bertanya ke diri sendiri, aspek mana dari waktu hari ini yang bisa dinikmati. Ketika macet, saya mencari wanita cantik yang bisa saya lihat. Tatkala dimarahi orang, saya paksa diri sendiri untuk menemukan hal lucu dari kemarahan tadi. Bila isteri cemberut, saya pergi ke driving range dekat rumah. Mudah, murah namun meriah.

Berkaitan dengan hubungan, ia ibarat taman di halaman rumah. Saat tertentu, ia memerlukan air. Saat lain butuh dipotong. Di waktu lain memerlukan pupuk. Yang jelas, tidak pernah ada taman yang asri tanpa pemeliharaan. Demikian juga dengan hubungan bersama orang lain. Ia memerlukan ketekunan, ketelatenan, kesabaran agar senantiasa asri.

Dengan anak mertua di rumah, saya kerap bersukur karena mendapat godaan besar ketika kedewasaan sudah tumbuh. Suatu hari, tanpa tahu apa yang terjadi, saya pernah dimarahi oleh isteri teman sampai menyentuh hati saya yang paling dalam. Ego saya mengatakan, orang ini mesti dibalas. Tetapi, begitu emosi ini mengendap, dalam sebuah sembahyang saya berdoa, mudah-mudahan isteri teman tadi dikaruniai dan dilindungi Tuhan. Dan, terpelihara rapilah hubungan saya dengan teman tadi.

Begitu membaca nasehat Robin Sharma tentang live life fully, saya teringat dengan karya Ron Jenson dengan judul Make A Life, Not Just Living. Rangkaian nasehat Jenson yang tidak pernah saya lupa berbunyi begini : “you’re also the only one with your background, your contact and your personality. Therefore, there are many things in this life that only you are qualified to do. This is a reality that you must fully embrace“.

Kita semua adalah mahluk unik. Manusia dengan kepribadian, latar belakang dan jaringan hubungan seperti Anda ya hanya Anda sendiri. Tidak ada yang persis sama seperti Anda. Untuk itu, pasti ada misi dan kesempatan di balik keunikan ini yang bisa digunakan oleh Anda sendiri. Sekali lagi pasti.

Saya adalah manusia dengan hobi menulis dan berbicara di depan umum. Karena kepribadian dan latar belakang tertentu, ada orang yang mau percaya. Gabungan dari semua ini, terbentuklah saya yang ada sekarang. Persoalan dianggap pintar atau bodoh, kaya atau miskin, sukses atau gagal, itu hanya sebutan orang lain. Yang jelas, saya amat mensukurinya.

Dengan seluruh cerita di atas, sudah siapkah Anda menjadi biarawan yang menjual ferrarinya?

16 Juli 2000

%d bloggers like this: