jump to navigation

Pemimpin Dan Kekasih August 13, 2007

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
trackback

Bagi setiap manusia normal, memiliki kekasih adalah salah satu bentuk pengalaman yang sulit terlupakan. Tidak sedikit orang beranggapan, memiliki kekasih jauh lebih indah dari memiliki suami atau isteri. Dalam berhubungan dengan kekasih, dunia seperti penuh imajinasi dan fantasi .

Sayapun pernah mengalami keindahan seperti ini. Bersama seorang wanita yang sekarang sudah menjadi anak mertua, kenangan berjalan menelusuri pinggiran danau yang sepi dan damai, atau duduk berjam-jam di pantai yang hanya dihuni suara ombak, sungguh sebuah pengalaman yang sulit dilupakan.

Keindahan serupa juga saya temukan ketika membaca karya Kahlil Gibran yang berjudul Lazarus and His Beloved and The Blind.. Karya apik ini bertutur tentang kisah Lazarus bersama ‘kekasihnya’. Kekasih terakhir saya beri tanda kutip, sebab arti yang dimaksud memang tidak sama dengan pengertian biasanya. Lebih dari sekadar kekasih sebagai calon suami atau isteri, Gibran bertutur tentang kekasih yang lebih abadi.

Sebagaimana karya sastra lainnya, pengertian tentang kekasihnya Lazarus ini memang tidak semudah mengerti matematika dan statistika yang serba eksak. Di saat tertentu, ia berarti cakrawala yang menampung sinar matahari serta nyanyian bintang-bintang. Di saat lainnya, ia menghadirkan makna berupa arus sungai yang mencari laut. Di kesempatan lainnya, kekasih tadi sama dengan cinta yang tinggal di keheningan hati yang putih.

Pokoknya, serba indah dan bergerak. Sebagai orang manajemen yang terbiasa menelusuri jalan pengetahuan melalui definisi yang kering dan kaku, bercengkerama dengan ‘kekasih’ ala Kahlil Gibran ini sungguh sebuah pengalaman yang merangsang imajinasi dan keindahan. Tidak hanya jiwa yang dibuat kaya, kreativitas dan inovasipun dirangsang.

Dulu, ketika saya masih memahami manajemen sebagai rangkaian definisi, sungguh teramat bingung mendengar saran di Inggris agar sekolah manajemen mengajarkan sastra dan puisi. Tatkala mengawali pencaharian di dunia manajemen, melalui sekolah serta tumpukan buku teori yang menggunung, sulit bisa memahami ide kalau karya manajemen mesti disampaikan melalui bahasa-bahasa sastra. Pada saat pengalaman saya masih teramat miskin, karir masih berada di tataran tangga yang amat bawah, namun kepala penuh dengan teori-teori perilaku, adalah sebuah keniscayaan bagi saya untuk mengerti jiwa manusia melalui kata-kata indah seniman.

Begitu memasuki dunia hubungan antarmanusia yang rumit, pengambilan keputusan yang sulit dicari polanya, duduk kesepian di piramida organisasi, amat terasa manfaat pengkayaan yang diakibatkan oleh bahasa-bahasa tanpa definisi ala Kahlil Gibran.

Dalam membaca cerita Lazarus misalnya, tidak hanya dunia penjelasan (explanation) yang berubah, tetapi juga dunia pengertian (understanding). Tidak saja otak yang terbuka, namun termasuk juga jiwa. Tak hanya menjadi lebih pintar, melainkan juga lebih peka.

Mengalami seluruh proses ini, terkadang saya bermimpi kalau ada perusahaan yang mengundang saya tidak untuk berbicara manajemen sebagaimana biasanya, tetapi meminta saya bertutur tentang cerita pendek seperti kekasih Lazarus.

Ini penting, sebab dari ribuan manajer yang pernah saya temui, rata-rata sudah terlalu fasih berfikir dan berbicara tentang fakta dan logika. Namun, teramat sedikit yang memiliki jiwa yang kaya, kepribadian yang peka, dan bisa mengerti tanpa melalui proses penjelasan.

Bagi Anda yang biasa berfikir dalam angka dan sistimatika, tentu saja sulit untuk masuk ke dalam dunia seperti ini. Tetapi, bagaimanapun sulitnya, keindahan yang tidak bisa didefinisikan melalui kata-kata manapun sedang menanti Anda.

Keindahan terakhir, lebih indah dari sinar matahari pagi. Lebih sejuk dari hawa pegunungan. Lebih harum dari bunga manapun. Lebih lembut dari sutera. Lebih halus dari salju. Lebih molek dari wanita yang paling cantik. Dan yang paling penting, seperti berhubungan dengan seorang kekasih, ia penuh imajinasi dan fantasi.

Saya tidak sedang menghasut Anda ke dunia yang tidak-tidak. Tetapi, keadaan yang serba krisis.

16 Juli 2000

%d bloggers like this: