jump to navigation

Menikah Dengan Diri Sendiri August 10, 2007

Posted by lenterahati in Gede Prama, Lentera Hati, Uncategorized.
trackback

Buku harian saya sebagai konsultan manajemen, tidak selamanya berisi catatan yang hanya terkait dengan prestasi perusahaan. Demikian luasnya bidang yang dicakup oleh manajemen, kerap ia merambah ke daerah yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Kadang, saya malah harus menjadi konsultan perkawinan bagi klien. Terutama, kalau mahligai pernikahan klien terganggu, dan bisa mengancam prestasi perusahaan.

Ini juga saya alami beberapa waktu lalu, ketika seorang klien menyeleweng, kemudian mengundang protes berat isterinya. Kejadian ini merambah wilayah konsultasi saya, karena sebagian pemegang saham yakin, kalau hanya saya yang bisa meyakinkan play boy kelas kakap terakhir.

Mirip dengan bentuk hubungan manusia lainnya – baik kerja dalam team, menata organisasi, dll – perkawinan akan senantiasa diwarnai oleh friksi dan perbedaan. Sebagian orang bahkan meyakini, di situlah letak seninya berhubungan dengan manusia.

Bagi saya, jangankan menikah dan bekerjasama dengan orang lain, kalau ada kesempatan untuk menikah dan bekerjasama dengan diri sendiri, saya tidak yakin kalau semuanya akan berjalan amat mulus. Penolakan, perbedaan, ketidakcocokan akan senantiasa ada.

Berbeda dengan bentuk hubungan bersama orang lain – di mana kalau tidak cocok kita bisa mencari penggantinya – dengan diri sendiri, kita tidak punya pengganti. Tubuh dan jiwa yang kita miliki hanyalah yang kita punya sekarang.

Dengan kesadaran terakhir, kita tidak punya pilihan menolak, cerai atau berpisah dengan diri sendiri, satu-satunya pilihan: menikah dengan sang diri.

Manusia-manusia yang hidupnya kena stres, depresi, masuk rumah sakit jiwa atau bunuh diri sekalian, adalah sebentuk orang yang pernikahannya dengan sang diri gagal.

Sebaliknya, pengalaman saya bertutur, kebanyakan orang yang berhasil hidupnya, sering ditandai oleh kemesraan yang mengagumkan dengan sang diri. Kelemahan, kekurangan, bahkan cacat tubuhnya sekalipun, tidak menjadi penghambat, malah menjadi sarana kemajuan yang mencengangkan.

Diana Golden – kalau saya tidak salah dalam mengeja namanya – adalah seorang pembicara publik yang amat mengagumkan bagi saya. Betapa tidak mengagumkan, dengan kedua kaki lumpuh yang dibantu tongkat, ia melakukan presentasinya di depan panggung secara demikian bergairah. Bergerak bebas dari satu panggung ke panggung lain. Kadang malah duduk penuh percaya diri di atas meja. Menguasai panggung tanpa sedikitpun keraguan.

Demos Thenes, seorang pembicara publik terkemuka dalam sejarah Yunani, awalnya adalah penderita gagap dalam kadar yang sangat akut. Bertahun-tahun ia mendidik dirinya dengan meletakkan batu ke dalam mulutnya sambil berbicara.

Abraham Lincoln, mengalami cobaan hidup secara berulang-ulang. Termasuk pernah kena depresi berat sampai nyaris masuk rumah sakit jiwa. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Meminjam argumennya Iris Barrow dalam Make Peace With Yourself, ‘many people suffer all their lives because they do not accept and come to terms with the feelings of anger, frustration, resentment, fear, despair…which they experience‘.

Belajar dari sini, tidak hanya kelebihan dan kehebatan yang harus kita peluk dan terima apa adanya. Kekurangan seperti marah, frustrasi, takut dan sejenispun sebaiknya kita peluk dan terima. Ini penting, sebab banyak penyakit kejiwaan bersumber pada penolakan terhadap kekurangan-kekurangan terakhir.

Bayangkan, saya akan frustrasi berat bila melihat diri saya yang lagi marah dibandingkan kesabaran mengagumkan ala Mahatma Gandhi. Saya akan menjadi minder melihat rekaman presentasi saya, jika dibandingkan kehebatan seorang Anthony Robbins.

Untuk itu, saya belajar tidak hanya menjadi pemaaf buat orang lain, tetapi menjadi pemaaf buat diri saya sendiri. Sebagaimana pernah ditulis Catherine Ponder dalam The Dynamic Law of Healing : ‘Forgiveness can unblock whatever has stood between you and your good‘.

Dengan kata lain, sikap pemaaf bisa membuka banyak pagar yang memisahkan diri kita dengan sejumlah kesempurnaan yang telah ada di dalam.

Dalam pergaulan sehari-hari, melalui raut muka, sinar mata, senyum orang, percaya diri, saya bisa membedakan antara orang-orang yang pemaaf dengan dirinya sendiri, dengan orang-orang yang membenci dirinya.

Dalam bekerja, bergaul maupun dalam presentasi, penguasa-penguasa keberhasilan umumnya adalah manusia yang tidak hanya pemaaf dengan dirinya sendiri, melainkan juga menikah akur dengan sang diri.

Perhatikan presentasi Diana Golden yang mengagumkan, lihat ekspresi mata Larry King di CNN, amati kepemimpinan Cory Aquino yang relatif tidak terbebani oleh pengalamannya yang hanya mantan ibu rumah tangga, semuanya menunjukkan pernikahan mengagumkan dengan sang diri.

Dalam sebuah sesi meditasi, seorang guru pernah bertutur ke saya : ‘your mind is a wonderful gift. Use it to work for you, not against you‘.

Nah, yang dimaksud mind di sini mencakup baik kelebihan maupun kekurangan kita. Ia akan menjadi kekuatan yang membantu, bila kita berhasil berpelukan mesra dengannya.

Tidak bisa dibayangkan, kemana larinya keberhasilan, jika setiap hari kita mau ‘bercerai’ dengan rasa marah, takut, frustrasi yang datang dari dalam diri.

Dengan isteri, setelah cerai kita bisa atur untuk tidak bertemu lagi. Dengan marah dan rasa takut, ia akan datang dan datang lagi.

Anda boleh mengambil sikap apapun, namun saya sedang mendidik diri untuk menikah dengan diri saya.

16 Juli 2000

%d bloggers like this: