jump to navigation

Mandikan Aku Bunda August 18, 2007

Posted by lenterahati in Anonymous, Lentera Hati, Uncategorized.
comments closed

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. “Why not the best,” katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.

Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang “selevel“, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.

Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah “alif” dan huruf terakhir “ya“, jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.

Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya saya pernah bertanya, “Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal?” Dengan sigap Rani menjawab, “Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!” Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadwal Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.

(more…)

Advertisements

Biarawan Yang Menjual Ferrarinya August 17, 2007

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
comments closed

Ketika membaca judul buku Robin Sharma The Monk Who Sold His Ferrari, saya merasakan sebuah sentuhan. Bayangkan, mana ada seorang biarawan yang memiliki Ferrari. Disamping itu, mobil mewah terakhir malah mau dijual.

Lebih tersentuh lagi, ketika selesai membaca buku menggugah ini. Sebagai seorang konsultan yang biasa bergaul dan berinteraksi di kalangan menengah atas, betapa tersentuhnya saya dengan ajakan-ajakan menyentuh seperti joyful thought, look within for success, value time as your most important commodity, nourish your relationship dan live life fully.

Mari kita mulai dengan joyful thought. Sebagaimana pernah saya tulis di kesempatan lain, kita memang sedang memproduksi biokimia dan biologi tubuh kita melalui apa yang kita fikirkan. Sebagaimana pernah dikutip oleh Deepak Chopra, wanita yang bercerai – dari hasil penelitian dengan sampel ribuan – memiliki kemungkinan terkena kanker payudara lebih besar dibandingkan dengan yang tidak bercerai. Dari contoh dan bukti yang masih bisa ditambah ini, terlihat jelas, bahwa fikiran memproduksi kehidupan. Mungkin ini kedengarannya klise, tetapi saya mempercayai sekali kekuatan berfikir positif. Seperti sebuah pepatah Cina : “Don’t curse the darkness, light a candle“. Dibandingkan mengutuk kegelapan, jauh lebih berguna langsung menyalakan lilin.

Bila kegiatan ‘menyalakan lilin’ jauh lebih banyak dibandingkan ‘mengutuk kegelapan’, jangan pernah khawatir dengan kehidupan. Kesehatan, hidup yang cukup, rezeki, kerukunan, kearifan dan hal sejenis, akan mengalir sejalan dengan semakin banyaknya kegiatan menyalakan lilin.

Berkaitan dengan look within for success, ada semacam kerancuan dalam cara manusia mencari keberhasilan. Tidak sedikit orang yang mencarinya di luar diri. Dalam bentuk rumah, merk mobil yang digunakan, jabatan yang diduduki, baju dan jam tangan yang dikenakan dan bentuk-bentuk sejenis. Sebagaimana pernah disarankan oleh seorang rekan warga Amerika ke saya : “you are more than your money, your job and your tittle“.

(more…)

Pemimpin Dan Kekasih August 13, 2007

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
comments closed

Bagi setiap manusia normal, memiliki kekasih adalah salah satu bentuk pengalaman yang sulit terlupakan. Tidak sedikit orang beranggapan, memiliki kekasih jauh lebih indah dari memiliki suami atau isteri. Dalam berhubungan dengan kekasih, dunia seperti penuh imajinasi dan fantasi .

Sayapun pernah mengalami keindahan seperti ini. Bersama seorang wanita yang sekarang sudah menjadi anak mertua, kenangan berjalan menelusuri pinggiran danau yang sepi dan damai, atau duduk berjam-jam di pantai yang hanya dihuni suara ombak, sungguh sebuah pengalaman yang sulit dilupakan.

Keindahan serupa juga saya temukan ketika membaca karya Kahlil Gibran yang berjudul Lazarus and His Beloved and The Blind.. Karya apik ini bertutur tentang kisah Lazarus bersama ‘kekasihnya’. Kekasih terakhir saya beri tanda kutip, sebab arti yang dimaksud memang tidak sama dengan pengertian biasanya. Lebih dari sekadar kekasih sebagai calon suami atau isteri, Gibran bertutur tentang kekasih yang lebih abadi.

Sebagaimana karya sastra lainnya, pengertian tentang kekasihnya Lazarus ini memang tidak semudah mengerti matematika dan statistika yang serba eksak. Di saat tertentu, ia berarti cakrawala yang menampung sinar matahari serta nyanyian bintang-bintang. Di saat lainnya, ia menghadirkan makna berupa arus sungai yang mencari laut. Di kesempatan lainnya, kekasih tadi sama dengan cinta yang tinggal di keheningan hati yang putih.

(more…)