jump to navigation

Manusia paling beruntung July 19, 2000

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
trackback

Di sebuah seminar yang diadakan Asosiasi Manajer Indonesia cabang Bandung akhir Januari 1999, seorang peserta bertanya ke saya tentang feng Shui. ‘Adakah keyakinan ini benar, atau hanya sugesti belaka?’, demikianlah kira-kira bunyi pertanyaannya.

Terus terang, ini memang bukan bidang kajian saya. Namun, setelah mendengar dan membaca sejumlah cerita tentang feng shui, saya menemukan dua jenis penjelasan. Pertama, sebagian teori feng Shui memiliki akar rasionalitas. Contohnya, rumah tidak boleh tusuk sate tentu saja bisa dimaklumi. Sebab, kalau ada mobil yang remnya blong, maka celakalah akibatnya. Kedua, kendati sebagian teori feng Shui kelihatannya tidak masuk akal, namun karena dipercayai dan diyakini banyak orang maka ia menjadi collective beliefs. Apapun yang diyakini – apalagi secara berlebihan – bisa menjadi magnet yang bisa membuat wajah kehidupan persis seperti yang diyakini.

Digabung menjadi satu, berguna tidaknya feng shui bagi seseorang, amat tergantung pada kemampuan melihat rasionalitas yang ada di baliknya, serta sudah tentu keyakinan yang menyertainya.

Lepas dari soal feng shui, keberuntungan adalah sebuah bidang kajian yang menarik minat banyak sekali orang. Dari orang terkenal sampai orang biasa ingin mengetahui keberuntungan dirinya.

Lebih-lebih di zaman krisis yang super langka akan kemajuan. Bila saja ada orang yang bisa merubah keberuntungan – dengan garansi uang kembali – pasti akan laris manis dicari orang.

Di forum seminar, dalam proses konsultasi, maupun di lapangan golf, saya termasuk orang yang sering ditanya urusan seperti ini. Kendatipun sampai sekarang masih bingung, kenapa mereka bertanya ke saya. Mereka tahu, saya hanya seorang pembicara publik dan konsultan manajemen. Seorang pengusaha yang baru saja kenal beberapa menit, pernah mengajak saya berbisnis, hanya karena bentuk hidung dan telinga – yang menurut dia penuh keberuntungan.

Anda boleh percaya, boleh juga tidak. Namun, kalau ada ramalan positif tentang diri saya, saya akan mempercayainya. Sebaliknya, kalau negatif saya akan melupakannya. Sebab, saya tidak mau mensugesti diri dengan hal-hal negatif. Sebagai hasilnya, saya memang bukan orang kaya secara materi, tetapi saya yakin sudah mengucapkan terimakasih ke Tuhan dalam frekuensi yang lebih besar dibandingkan kebanyakan orang.

Memakan makanan apa saja, melihat ikan koi di depan rumah, mendengar suara gemercik air sungai di belakang rumah, melihat mimik putera-puteri saya ketika mengucapkan thanks a lot daddy, mendengar suara isteri di telepon kala di luar kota, luput dari kecelakaan, apa lagi diberi rezeki, lebih dari cukup bagi saya untuk berucap secara otomatis : thanks God !.

Sahabat saya Ignas G. Sidik dari Prasetiya Mulya pernah bertutur : ‘Tuhan hanya bisa mengangguk !’. Bila Anda bilang uang masih kurang, mobilnya kurang mewah, isteri terlalu cerewet, atau rumah sudah cukup layak, Tuhan-pun mengiyakannya.

Dibandingkan diiyakan untuk urusan yang bikin susah, saya memilih diiyakan untuk persoalan yang menimbulkan rasa senang. Makanya, ke banyak rekan saya sering berucap : the only certain thing in life is only fun. Dan, kita bisa merekayasa fun tadi dalam kehidupan. Persoalannya hanya satu : di mana kita meletakkan sudut pandang kita. Itu saja, tidak lebih tidak kurang.

Saya pernah bertemu dengan seorang yang berumur 70 tahun lebih. Namun, masih tampak sehat, awet muda dan mukanya sering berseri-seri. Di suatu pagi menjelang sarapan, saya tanya resep hidupnya. Ternyata amat sederhana : katakan cukup pada Tuhan !. ‘Lihat saja‘, demikian tuturnya sambil mengambil makanan, ‘setiap pagi saya hanya butuh semangkok bubur dan segelas air putih, menjelang tidur malam makan dua buah pisang serta segelas jus, untuk itu tidak diperlukan uang dalam jumlah yang teramat banyak’. Luar biasa !

Di kesempatan lain, saya pernah bertemu seorang ibu dengan umur menjelang 70, yang menurut ukuran saya, hidupnya banyak kalah dan dikalahkan suaminya. Ketika saya tanya, kenapa justru suaminya yang lebih banyak ke dokter dan masuk rumah sakit, ia hanya berucap sederhana : ‘saat kita memberi, kita justru menerima dalam jumlah yang jauh lebih banyak‘. Mengagumkan sekali !

Apa yang mau saya ceritakan melalui pengalaman dua tokoh pujaan ini, ditambah dengan cerita awal tentang feng shui, beserta teori Tuhan yang hanya bisa mengangguk, rupanya rekayasa tidak menjadi monopoli kaum insinyur. Pakar-pakar kehidupan seperti Andapun bisa melakukan rekayasa keberuntungan hidup.

Feng shui merekayasa keberuntungan melaui peningkatan keyakinan dengan cara penataan rumah. Ignas G. Sidik sahabat saya merekayasa keberuntungannya dengan meyakini Tuhan selalu mengangguk. Bapak Tua tadi merekayasanya dengan mengatakan cukup kepada Tuhan. Ibu berbahagia di atas merekayasanya dengan kegiatan memberi.

Seorang rekan secara bercanda pernah menyebutkan bahwa wanita yang memiliki tahi lalat di mukanya pasti beruntung. Ketika saya tanya balik kenapa, ia menjawab sambil tertawa : ‘untung tahi lalat, kalau tahi kebo habis mukanya tertutup‘.

Terlepas dari semua ini, saya menghormati teori feng shui, keyakinan cukup, Tuhan mengangguk dan teori memberi. Melengkapi perbendaharaan Anda akan ilmu rekayasa keberuntungan hidup, sebuah pepatah Zen pernah mengatakan : ‘berhasil mengatasi baik dan buruk, kalah dan menang, adalah keberuntungan sejati‘.

%d bloggers like this: