jump to navigation

Organisasi Berbasiskan Pengetahuan July 18, 2000

Posted by lenterahati in Gede Prama, pekerjaan, Uncategorized.
trackback

Membaca argumen Brian Arthur dari Institut Santa Fe – sebagaimana dikutip Thomas A Stewart dalam buku Intelectual Capital – yang dibangun di atas tumpukan data yang meyakinkan, mengingatkan saya kembali akan pentingnya organisasi dan juga ekonomi berbasiskan pengetahuan.

Coba cermati kesimpulan Arthur : ‘Economy that are resources based are still subject to diminishing return. The parts of the economy that are knowledge based are largely subject to increasing returns‘.

Kesimpulan terakhir ini sebenarnya tidak hanya berlaku di Amerika sana. Namun juga membumi di sini. Indikatornya sederhana saja. Coba perhatikan kecenderungan nilai tukar barang-barang hasil pertanian dari pedesaan, dibandingkan barang berbasiskan pengetahuan dari perkotaan. Angkanya semakin menyedihkan dan menyedihkan. Ketika saya masih remaja dulu, sebuah mobil Chevrolet Luv bisa dibeli hanya dengan beberapa karung cengkeh. Sekarang, berapa karung cengkeh yang dibutuhkan untuk membeli mobil yang sama?

Di dunia korporasi juga sama. Lihat perusahaan-perusahaan yang prestasinya menjulang. Sebut saja Microsoft, General Electric, IBM atau perusahaan sejenis. Hampir semuanya maju pesat bertumpu pada intensitas penggunaan pengetahuan.

Dalam persaingan antarnegara juga setali tiga uang. Amerika Serikat yang dikenal sebagai pelopor pembentuk masa depan, menghabiskan uang yang sangat besar untuk mendalami teknologi dan pengetahuan masa depan. Anggaran litbangnya melimpah. Sektor-sektor yang dijadikan konsentrasi hampir semuanya bersifat knowledge intensive.

Dalam persaingan antar pekerja juga tidak banyak berbeda. Semakin intensif sebuah profesi menggunakan pengetahuan, semakin besar kemungkinan diberi kompensasi yang lebih tinggi. Sebagai contoh, sebuah tabloid pernah membuka rahasia gaji konsultan asing yang membantu BPPN (badan penyehatan perbankan nasional). Awalnya, saya tidak hanya terkejut. Malah, tidak pernah membayangkan sebuah negara yang dililit krisis total bisa menggaji konsultan dengan gaji yang demikian besar.

Lebih dari itu, coba cermati lagi beberapa fenomena kehidupan. Perhatikan knowledge content dari barang dan jasa yang kita konsumsi. Bukankah knowledge content- nya semakin besar dari hari ke hari?. James Brian Quinn pernah menyebutkan, tiga perempat dari seluruh nilai tambah masyarakat bersumber dari pengetahuan.

Saya memang tidak sepenuhnya setuju dengan klasifikasi ala Alvin Toffler. Seolah-olah setelah pertanian, hanya ada industri. Setelah industri hanya ada informasi. Sejauh perut masih mau makan, pertanian akan tetap ada. Semasih kita hidup didukung peralatan, industrialisasi akan senantiasa eksis. Demikian juga dengan informasi dan pengetahuan yang semakin perlu di abad jaringan ini.

Akan tetapi, di bidang manapun, tuntutan akan penerapan pengetahuan tidak bisa ditunda. Dalam pasar buah-buahan, kita sudah lama tertinggal oleh tetangga kita yang kekayaan alamnya tidak senilai dengan sebuah pulau kita sekalipun. Dengan tanah persawahan yang demikian melimpah, telah lama kita mengimport beras. Di dunia industri, telah menjadi rahasia umum kalau Indonesia dijadikan ‘tong sampah’-nya Singapura. Banyak hal yang tidak laku di negeri pulau kecil ini, dibawa lari ke sini dan laku. Di sektor informasi dan pengetahuan apa lagi.

Digabung menjadi satu, menyongsong masa depan bagi siapapun – bangsa, perusahaan dan juga pekerja – tidak ada tawar menawar dalam intensitas penerapan pengetahuan.

Oleh karena itulah, membangun organisasi berbasiskan pengetahuan, menjadi kebutuhan semua pihak. Sayangnya, Thomas A. Stewart yang menjadi pionir di bidang intellectual capital tidak memberikan jawaban memuaskan dalam hal ini.

Klasifikasi Stewart tentang human capital, structural capital dan customer capital memang sedikit membantu, tetapi misteri organisasi berbasiskan pengetahuan tetap masih tersembunyi.

Dengan halaman yang terbatas, saya mencoba membuka sebagian kecil saja dari misteri di atas. Fundamennya sebenarnya sederhana saja. Mulailah mengklasifikasikan manusia dengan cara yang bisa memperlihatkan intensitas pengetahuannya.

Sebagai konsultan, saya mengembangkan klasifikasi dengan lima tingkatan : tidak tahu, tahu, trampil, sistimatis dan kreatif.

Bermodalkan lima tingkatan ini, kita perlu melakukan evaluasi ulang terhadap seluruh manusia yang ada, sekaligus memagari pintu depan recruitment dengan cara yang sama. Demikian juga dengan pengembangan, penggajian dan pemeliharaan manusia. Pengembangan sebagai contoh, difokuskan untuk mentransformasikan manusia dari sekadar trampil menuju kreatif. Siapa yang dipelihara, hanyalah manusia sistimatis dan kreatif. Atau mereka yang berpotensi ke arah itu. Demikian juga dengan penggajian.

Kriteria dan alat ukurnya memang teramat panjang untuk diungkapkan di sini. Namun, inilah saatnya untuk mulai meletakkan pilar-pilar organisasi hanya ke orang-orang yang sistimatis dan kreatif. Mereka yang sekadar trampil, apalagi hanya tahu, lebih-lebih tidak tahu, tidak punya pilihan lain selain segera merubah diri secepatnya. Kecuali, siap dibuat minggir oleh kecenderungan dan perkembangan.

Dalam setting organisasi seperti ini, organisasi tidak hanya menjadi a place of production, tetapi juga a place of thinking. Bila Anda setuju dengan saya akan faedah fantastis kreativitas, organisasi juga a place for fun.

%d bloggers like this: