jump to navigation

Humor Sebagai Vitamin Masyarakat July 17, 2000

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
trackback

Dalam banyak studi tentang masyarakat terorganisir – organisasi perusahaan termasuk di dalamnya, setiap kali orang berbicara tentang disain organisasi yang bisa meningkatkan kinerja, hampir selalu orang terlibat dengan variabel-variabel formal. Sebut saja karya Weber tentang birokrasi, yang menjadi bibit tumbuhnya disiplin organisasi. Hampir semuanya melibatkan variabel formal.

Penekakan pada variabel informal, memang banyak juga pendukungnya. Hanya saja besarnya waktu, biaya dan perhatian yang diluangkan untuk mendalami aspek informal organisasi, masih jauh lebih kecil dibandingkan studi pada variabel formal.

Sebut saja studi kelompok Aston serta Lawrence & Lorch, yang sering menjadi acuan pendekatan kontingensi. Kebanyakan variabelnya bersifat formal.

Penelitian lintas disiplin yang pernah dilakukan Lash & Urry tentang masyarakat terorganisir – sebagaimana dipublikasikan melalui buku The End of Organizied Capitalism, juga mengindikasikan hal yang sama.

Sempat bangkitnya era budaya organisasi, yang mengacu pada kasus keberhasilan Jepang beberapa tahun lalu, juga tidak berhasil membendung derasnya ‘dominasi’ pemikiran variabel formal terhadap informal. Belum lagi jika ditambah dengan kenyataan, panjangnya sejarah di banyak negara, di mana pemimpin informal berada di bawah telapak kaki pemimpin formal. Pusat pengembangan upaya masyarakat teroganisir, hampir selalu berfokus pada pengembangan kelembagaan formal. Pembenahan kinerja organisasi perusahaan yang hanya membongkar struktur formal.

Sebenarnya, saya masih punya sederetan bukti yang bisa mendukung argumen terakhir. Namun, yang ingin saya kemukakan di sini, bukannya sikap anti variabel formal, melainkan betapa sedikit waktu dan energi yang kita alokasikan untuk mendalami segi informal dari organisasi.

Sebut saja humor sebagai salah satu komponen variabel informal. Sejauh bacaan saya, belum ada satupun buku serius yang mengulas kontribusi humor terhadap kinerja organisasi dan masyarakat.

Padahal kalau mau jujur, humor berfungsi tidak lebih rendah dari oli pelicin dalam mesin. Ia tidak hanya sarana yang mencairkan kekakuan. Ia tidak juga sekadar alat pengocok perut. Ia juga bukan semata-mata obat stres jangka pendek.

Lebih dari itu, melalui humor kita menemukan sejumlah cermin masyarakat yang tidak bisa ditemukan melalui sudut pandang lain. Kedewasaan pemimpin dan organisasinya, bisa dilihat dari keberaniannya untuk mentertawakan diri sendiri. Masa depan, dari segi tertentu, bisa diramalkan melalui humor yang berkembang. Early warning system masyarakat dan organisasi bekerja atau tidak, kelihatan dari bagaimana nasib humor.

Mari kita mulai dengan humor sebagai cermin kedewasaan. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Inggris untuk kepentingan studi beberapa tahun lalu, saya sempat heran dan terkejut melihat nasib John Major yang ditertawakan di depan publik. Atau, membaca karikatur di beberapa penerbitan Prancis yang ‘melecehkan’ perdana menteri mereka. Di AS, bukan rahasia lagi, kalau kegiatan sex presidennya sekalipun, menjadi konsumsi humor di mana-mana.

Dalam kerangka kesopanan dan kesantunan masyarakat timur, ini memang bisa masuk ke dalam ‘kotak’ kurang ajar. Akan tetapi, sulit mengingkari kenyataan, bahwa mereka dibentuk menjadi dewasa, salah satunya melalui humor.

Mengenai humor sebagai sarana prediksi masa depan, masih segar dalam ingatan kita humor tentang Srimulat. Kelompok lawak yang sering naik panggung di Senayan – bertetangga dengan kantor DPR/MPR – ‘diisukan‘ bubar karena kalah lucu dibandingkan tetangganya.

Saat itu, bagi anggota DPR/MPR memang kedengaran kecut. Bagi masyarakt, ia tambahan koleksi humor. Namun, tidak disadari oleh banyak orang bahwa humor terakhir, sebenarnya sedang memberikan basis masa depan : lembaga MPR/DPR akan duhujat, dimaki dan diduduki. Dari sinilah kemudian gelombang perubahan besar akan terjadi. Atau, pernah juga beredar humor tentang Tuhan yang menangis tersedu-sedu, ketika ditanya kapan korupsi berakhir di Indonesia. Kalau dulu ini sekadar humor, sekarang segala hal yang berbau korupsi, menjadi petaka menyedihkan, mirip dengan Tuhan yang menangis. Humor tentang Suharto, sudah berkembang sangat lama. Beredar secara sembunyi-sembunyi, dengan rasa takut, tetapi memiliki pembaca lebih banyak dibandingkan oplah koran manapun di negeri ini.

Tentang humor sebagai early warning system, bisa terlihat dari nasib majalah Humor dan nasib komedian. Beberapa saat sebelum bangsa ini masuk jurang, majalah Humor sudah tidak lagi beredar. Sebabnya mudah diterka, sulit mencari bahan humor, terutama karena dihantui terlalu banyak ketakutan. Kalau saja ada komedian, atau pengamat humor yang jeli, sebenarnya kehancuran majalah ini adalah early warning system bagi kehancuran bangsa ini. Karena mencerminkan ketidakdewasaan kita, sekaligus menutup mata terhadap kecenderungan ke depan. Jangan tanya saya, bagaimana nasib komedian di negeri ini. Yang jelas, Dedi Gumelar (Miing) sempat mengeluh ke saya pribadi, kalau banyak orang memandang komedian hanya sebagai tukang kocok perut. Padahal, mereka tidak lebih rendah dari pilosof sekalipun. Kalau Anda jeli, mereka juga sinyal masa depan.

Belajar dari ini semua, saya setuju dengan pendapat yang mengatakan ‘humor itu persoalan serius‘. Sama seriusnya dengan menata struktur organisasi, melakukan penilaian kinerja, regenerasi, dan juga litbang.

%d bloggers like this: