jump to navigation

Puncak Gunung Pengelolaan Manusia July 16, 2000

Posted by lenterahati in Gede Prama, Lentera Hati, Uncategorized.
trackback

Di hari terakhir tahun 1998, pada sebuah pagi yang dingin karena hujan dan angin, bersama kedua putera saya Wika dan Adi, kami sangat tersentuh menyaksikan kisah perjuangan hidup Ibu Theresa di saluran TV Hallmark.

Bayangkan, seorang wanita yang tidak lagi muda, menghabiskan banyak hidupnya menjadi biarawati, serta sudah hidup dalam standar kehidupan yang layak, rela meninggalkan seluruh kelayakan hidupnya hanya karena satu hal : tersentuh oleh penderitaan manusia lain.

Pengalaman yang paling sering membayangi pemenang hadiah nobel kemanusiaan ini, adalah saat menemui seorang pria tua renta yang berulang-ulang menyebut satu kata yang sama : lapar.

Terganggu oleh bayangan terakhir, ia kemudian melangkahkan kaki dengan amat yakin ke sebuah dunia yang sedang memanggilnya : the helpless.

Tidak sedikit harga yang telah dibayar untuk masuk ke dunia baru ini. Dari ancaman dibunuh orang, dicurigai mempolitisir dan membungkus charity dengan agama, dikira menggerakkan orang miskin agar menentang pemerintah, serta ancaman kesehatannya sendiri karena setiap hari bergelut dengan berbagai macam penyakit menular.

Singkat kata, bagi saya tokoh Ibu Theresa adalah seorang tokoh yang sangat keras kepala. Sangat yakin akan apa yang diyakini. Ia malah lebih keras dari batu. Namun, untuk sebuah tujuan yang amat dan teramat luhur.

Membandingkan kehidupan Ibu Theresa dengan kehidupan saya, seperti membandingkan langit dengan pohon kecil. Disebut langit, karena cakupan pengabdiannya tidak hanya sebatas pada jutaan penduduk miskin di Kalkuta. Ia juga menjadi inspirasi jutaan manusia lain. Menyadarkan banyak orang, bahwa ada jalan hidup dengan mengabdikan seluruh waktu buat orang miskin.

Sebagai konsultan manajemen yang keluar masuk perusahaan, bergaul dengan orang kalangan atas, kerap bertemu orang yang merasa terinspirasi oleh tulisan-tulisan saya, di depan ‘langit’ kehidupannya Ibu Theresa semua ini mendekati nothing.

Dalam membantu perusahaan, saya sering berhitung dengan jumlah uang yang tidak kecil. Namun, di hadapan sentuhan-sentuhan kemanusiaan ala Ibu Theresa, saya disadarkan bahwa ada banyak sekali hal yang tidak bisa dibeli oleh uang.

Ucapan terimakasih, doa, tatapan mata yang tulus, serta dukungan hati nurani orang lain, adalah sebagian hal-hal besar yang tidak bisa dibeli oleh uang.

Di tengah-tengah maraknya berita tentang penjarahan, perampokan, pemerkosaan, pencopetan dan pembakaran, kerap saya – dan mungkin juga Anda – bertemu dengan tatapan-tatapan mata yang mirip dengan yang ditemukan Ibu Theresa di awal karirnya.

Sudah menjadi rahasia umum, kalau banyak pengemis di kota besar dikelola oleh sejumlah mafia. Namun, di sejumlah perempatan jalan, yang tidak jarang menjadi menakutkan karena maraknya kejahatan, sering terlihat pasangan-pasangan mata yang menyentuh nurani. Baju dan badan kotor, sebagian anggota tubuh tidak ada, luka menahun yang dikelilingi lalat, serta sederetan atribut yang membuat hati siapapun menangis.

Alam bawah sadar saya sering berucap spontan : Tuhan, kuatkan iman hambamu. Akan tetapi, sesaat setelah menonton kisah Ibu Theresa, ucapan spontan tadi disamping terdengar basa-basi, juga tidak ada artinya. Bahkan, semua uang dan kekayaan yang saya miliki sekalipun, masih jauh dari berarti.

Mengakhiri tahun 1998, sebagaimana biasanya, saya juga menerima banyak kartu ucapan terimakasih dan selamat tahun baru.

Ada seorang pimpinan Caltex Pacific Indonesia yang menelpon dari Pekan Baru, disamping mengucapkan selamat tahun baru, juga mengucapkan terimakasih atas bimbingan saya di sebuah lokakarya.

Ada seorang dokter dari Gresik, yang juga mengucapkan terimakasih karena terinspirasi oleh seminar-seminar saya.

Ada seorang Ibu manajer yang berkantor di World Trade Center Jakarta, yang menyerahkan sendiri suratnya ke saya di sebuah kesempatan sambil mengucapkan terimakasih.

Ada klien IBM yang bertemu saya di hotel Sheraton Bandung, dan juga mengatakan teriinspirasi dengan seminar saya bersama IBM di Hongkong beberapa waktu lalu.

Namun, semakin banyak tumpukan terimakasih dan pujian yang datang, rasanya semakin saya merasa kecil dan kerdil dibandingkan pengabdaian besar ala Ibu Theresa.

Di bawah sebuah langit, sebuah pohon kecil hanyalah penghias yang nyaris tidak berguna. Demikian, sang aku pernah bertutur ke saya di hari terakhir tahun 1998.

Di tengah keminderan saya yang teramat besar ini, ada seorang mantan VP di Citi bank yang membuat saya iri tidak kepalang tanggung.

Pasalnya, di tengah kesibukannya yang menumpuk, dan individualisme Jakarta yang nyaris tidak ada tandingannya, setiap malam ia mempekerjakan sejumlah orang untuk mengumpulkan makanan yang tidak habis terjual di restoran dan hotel kerabatnya.

Makanan sisa penjualan hari itu, dikumpulkan, dinaikkan ke mobil boks, dibungkus rapi di rumah rekan tadi, dan langsung pada malam yang sama didistribusikan ke tempat-tempat kumuh yang membutuhkannya.

Rekan tadi memang tidak pernah menceritakannya ke orang lain, apa lagi berpromosi. Sayapun mengetahuinya karena pernah memergoki mobil boks di rumahnya yang mewah sedang menaikkan bungkusan makanan.

Bersama kumpulan cerita Ibu Theresa dan rekan di atas, saya hanya bisa merunduk malu mengakhiri tahun 1998. Tiba-tiba saja saya teringat apa yang pernah ditulis Morihei Ueshiba dalam The Art Of Peace : ‘there are many paths leading to mount Fuji, but there is only one summit – love‘.

%d bloggers like this: