jump to navigation

Mengelola Manusia Ala Golf July 16, 2000

Posted by lenterahati in Gede Prama, Lentera Hati, pekerjaan, Uncategorized.
trackback

Di Indonesia, ada banyak arti yang diberikan terhadap akronim golf. Ada yang menyebutnya dengan ‘golongan orang-orang lupa fikiran’, maklum dekat bolanya dipukul, jauh dikejar. Ada yang mengartikannya dengan ‘golongan orang-orang lagi frustrasi’, sebab tidak sedikit manusia yang dibuat frustrasi oleh permainan terakhir. Ada bahkan yang memberinya pengertian dengan ‘golongan orang-orang lupa fulus’, karena banyak uang yang dibuang-buang dalam golf.

Terlepas dari benar tidaknya seluruh arti di atas, seorang rekan warga negara Inggris yang tidak hanya mendalami permainan golf, melainkan juga intensif mempelajari sejarah golf, pernah punya cerita menarik yang mengilhami lahirnya tulisan ini. Menurut dia, alasan kenapa orang Scotland yang menemukan olah raga golf, memberi permainan ini dengan golf karena diharapka ia bisa menjadi game of love and fun.

Atau, sebuah permainan yang mengkombinasikan love dengan fun. Sayangnya, ada banyak sekali pemain golf yang kehilangan esensi golf : love dan fun. Ada yang memarahi caddy sambil membanting stik. Ada yang berkelahi dengan rekan sepermainannya. Atau ada juga saling memarahi karena saling mencurigai soal score.

Digabung menjadi satu, siapa saja yang kehilangan dua esensi golf ini, tidak hanya akan terbakar oleh ‘neraka’-nya golf, tetapi juga memiliki produktivitas permainan yang menyedihkan. Saya sendiri sudah sering menjadi saksi hidup dari keyakinan terakhir.

Dalam setting yang kurang lebih sama, dunia kerja juga memiliki fondasi produktivitas yang sama : love dan fun. Lihat orang-orang yang mencintai dirinya dan pekerjaannya. Muka mereka umumnya bersinar. Percaya dirinya tidak usah diragukan. Tubuhnya seperti memantulkan cahaya produktivitas bagi orang lain. Coba perhatikan orang-orang yang mengerjakan pekerjaannya seperti melakukan hobi. Berjam-jam di depan komputer, tidak ada muncul perasaan lelah. Tiba-tiba saja hadir serangkaian rezeki yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Saya mengenal seorang pengusaha yang sangat mencitai dirinya dan pekerjaannya. Di mana saja, kapan saja dan bersama siapa saja, ia tidak pernah lelah untuk diajak berbicara tentang usaha dan peluang keberhasilannya. Penampilan orang ini sangat warm. Berada di dekat orang ini, kita seperti diberi energi keberhasilan.

Di satu kesempatan, saya juga pernah mengenal seorang pelukis ternama di Bali sana. Memasuki bengkel kerjanya, saya seperti memasuki sebuah ruangan yang penuh dengan energi kerja. Ketika saya tanya, berapa jam seniman terakhir bekerja setiap harinya, ia hanya menjawab bingung. Sebab, antara kerja, kesenangan, waktu untuk keluarga dan istirahat menyatu menjadi sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan.

Dalam prestasi materi, baik pengusaha maupun seniman di atas, cukup mengagumkan dalam ukuran saya. Pengusaha tadi, memulai sekolahnya di SD sambil berjualan kue di kampung. Sekarang, kemanapun ia pergi diantar supir naik Mercedes special edition. Seniman di atas, hanya mewarisi bakat seni dari salah satu leluhurnya. Tanpa warisan tanah semeter sekalipun. Sekarang, mobil BMW-nya nangkring lebih dari dua buah.

Saya masih punya sederatan cerita yang bisa memberi bukti terhadap fundamen hidup dan kerja produktif dalam bentuk love dan fun. Yang jelas, kedua fundamen terakhir, menghadirkan energi untuk mencapai keberhasilan secara teramat melimpah.

Disebut melimpah, karena disamping rasa capek dan jenuh akan jarang sekali datang, ia juga sering membuat orang bisa sampai pada tataran prestasi yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Ibarat orang berlari maraton, tanpa istirahat yang cukup dan gizi memadai, siapaun akan jatuh sakit. Love dan fun bisa menghadirkan energi yang jauh lebih memadai dibandingkan sekadar istirahat dan gizi fisik yang manapun.

Bagi saya keduanya adalah gizi kejiwaan, yang tidak hanya berguna bagi kesehatan jiwa. Tetapi, karena tubuh dan jiwa adalah dua bagian yang saling mempengaruhi, maka tubuh fisikpun memperoleh energi darinya.

Sebagaimana saat bermain golf. Begitu ritme permainannya ketemu, dan love serta fun terhadap permaian muncul, badan tidak menunjukkan tanda-tanda lelah kendatipun diajak bermain 27 holes.

Belajar dari sini, akan bagus sekali kalau ada perusahaan, maupun organisasi, yang bisa menciptakan love dan fun terhadap kerja di kalangan pekerjanya.

Saya pernah bertemu perusahaan, yang memberi kebebasan pada karyawannya memilih pekerjaan yang mereka sukai. Siapaun bebas memilih pekerjaannya, asal bisa membuktikan bahwa di tempat yang mereka pilih kemampuannya termanfaatkan secara optimal.

Ada juga perusahaan, yang sengaja membuat kolam renang besar di belakang pabrik, membuat lapangan tenis, mengelilingi camp dengan lapangan golf, memberikan kursus menjadi orang tua efektif, mendirikan bagian yang membantu program pemilikan rumah, mencarikan bea siswa buat anak-anak pekerja. Memberi hak cuti yang mereka sebut dengan days care. Dan sederetan program sejenis lainnya.

Semua ini dilakukan untuk membangun konsep kerja yang berdiri di atas dua tiang utama : love dan fun.

Sebagaimana pemain golf yang tidak pernah merasa lelah berolah raga, tidak takut membeli peralatan mahal, berani menanggung resiko kepala pecah kena bola, bukankah akan teramat menyenangkan punya pekerja yang bisa bekerja penuh dengan love dan fun ?

%d bloggers like this: