jump to navigation

Doa Seorang Ayah July 16, 2000

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
trackback

Setiap kali saya menemukan anak jalanan yang menadahkan tangan, hati saya kerap bertanya, “Apa doa ayah anak ini yang membiarkan anaknya  berkeliaran di jalanan?”. Adakah diantara ayah-ayah ini yang berdoa agar anaknya menjadi pengemis? Pernahkah terucap dalam sembahyang mereka untuk meminta supaya anaknya bergelandangan di jalan-jalan? Sungguh, serangkaian pertanyaan yang belum saya temukan jawabannya.

Sebagai ayah dari satu puteri dan dua putera, tentu saja saya kerap berdoa untuk mereka. Dan tidak perlu saya kemukakan di sini, apa doa saya buat mereka.

Yang jelas, setiap kali saya diingatkan oleh kekuatan doa seorang ayah, saya teringat cerita Bapak kost saya di desa Galgate dekat kota Lancaster Inggris.

Bob – demikian ia sering dipanggil –  memiliki sejumlah cucu yang cantik dan ganteng. Hampir setiap akhir pekan, cucu-cucunya datang berkunjung. Tidak hanya membuat rumah jadi meriah, tetapi merubah dunia seperti surga anak kecil. Saya sangat dan teramat iri dengan salah satu sisi kehidupan Bob ini. Di banyak kesempatan, puteri saya yang ikut-ikutan memanggil Bob dengan panggilan grand pa, ikut kecipratan rezeki kasih sayangnya. Tidak sedikit permen dan makanan kecil yang diberikan. Semua ini, membuat saya sempat bertanya, apa kira-kira doa Bob untuk putera-puteri serta cucu-cucunya setiap kali ia berdoa.

Tadinya, saya mengira jawaban Bob dalam bentuk semoga sehat, bahagia, rukun-rukun, banyak rezeki, jadi orang berguna dan doa klise lainnya. Namun, betapa kejutnya ketika ia menyebut doanya : “God, give my kids and grand children pain, because it will make them strong…” (Tuhan, beri anak-anak dan cucu-cucu saya rasa sakit, sebab ia membuat mereka menjadi manusia super kuat).

Beberapa saat setelah mendengar doa Bob, sempat terlintas di benak saya kalau ia hanyalah seorang kakek yang “kualat”. Sebab, mendoakan anak cucu agar sakit dan menderita. Dan, sayapun tidak berani menirunya.

Belajar dari doa Bob ini, sayapun penasaran bertanya ke Ibu saya di kampung, bagaimana bentuk doa beliau untuk saya dan saudara lainnya. Ibu saya sering menyebut frekuensi doanya yang lebih dari sekali sehari. Dan memohon rezeki, kerukunan, kearifan dan kejujuran buat semua anak dan cucunya. Klise memang !

Akan tetapi, sekian tahun setelah sempat menyebut Bob “kualat” dan melalui banyak sekali kesulitan hidup, termasuk pernah membanggakan diri karena menjadi alumni Universitas Kesulitan, saya menjadi lebih paham akan substansi doa Bob.

Kesulitan – demikian juga dengan apa yang dialami jutaan orang yang terkena PHK, tidak bisa membeli sembako, kesulitan menyekolahkan anak dan bentuk kesulitan lainnya – sebenarnya rangkaian “vitamin” yang membuat jiwa kita menjadi kuat.

Sebagai konsultan yang acap bergaul dengan kalangan berduit, saya bisa membedakan dengan jelas, mana orang berduit dengan jiwa yang sehat, mana yang jiwanya sakit. Umumnya, mereka yang berjiwa sehat pernah melalui tikungan-tikungan dan tanjakan-tanjakan hidup yang tidak mudah. Tidak sedikit malah yang pernah kena depresi dan sakit mental. Sebaliknya, tidak sedikit rekan yang dari dulunya sudah hidup mudah dan ringan, memiliki hidup yang kering dan kosong.

Belajar dari sini, di tengah kesulitan yang menggunung sekarang-sekarang ini, jangan-jangan kita sedang melalui metamorpose untuk menjadi manusia dan bangsa kuat.

Harga-harga naik secara sangat kurang ajar. Dengan berganti tahun angka pengangguran malah semakin membengkak. Di beberapa kaki langit negeri, terjadi kerusuhan, perampokan, pencopetan dan pembunuhan. Putus sekolah terjadi di mana-mana. Mulai muncul kantong kelaparan di mana-mana.

Mengacu pada doa Bob di atas, saya tidak tahu apakah generasi 28, 45 dan 66 berdoa sebagaimana Bob. Yang menarik, kendati Bob berdoa demikian, setiap kali anak dan cucunya datang,  ia tidak memiliki hal lain yang membanggakan terkecuali kasih sayang.

Berkaitan dengan Bob, saya tahu doanya sekaligus kualitas kasih sayangnya. Namun, berkaitan dengan generai pendahulu kita, saya tidak tahu doanya sekaligus kasih sayangnya.

Hanya saja, membaca pergolakan antar elit yang melibatkan sejumlah generasi 45, 66 dan generasi lainnya. Dari tragedi dukun santet di Banyu Wangi, pembakaran tempat ibadah pada kejadian Ketapang, pembunuhan mahasiswa tidak bersenjata di Semanggi, kerusuhan di Ambon dan di tempat lain, dan masih banyak lagi kejadian yang tidak kalah mengerikannya. Ada sejumlah generasi tua yang saling tuntut di pengadilan. Ada yang saling melempar isu tentang siapa yang berada di balik banyak kerusuhan.

Dari semua kejadian ini, saya tidak berani mengambil kesimpulan kalau mereka berdoa dan berperilaku buruk untuk generasi berikutnya. Kesimpulan seperti itu, justru akan memperlemah generasi saya dan generasi berikutnya. Sebab, setiap makian dan hujatan ke orang lain, tidak membuat jiwa menjadi kuat. Sebaliknya, malah membuatnya lemah dan keropos.

Dengan kesadaran penuh akan prinsip terakhir ini, saya memilih untuk belajar dari Bob. Berdoa terus untuk generasi berikutnya. Sukur-sukur bisa meniru kualitas kasih sayang Bob yang amat mengagumkan. Betapa indahnya taman manusia yang bernama Indonesia jika mirip dengan rumah Bob di akhir pekan: seperti surga anak-anak.

%d bloggers like this: