jump to navigation

Pahlawan Bernama Edi Tansil July 7, 2000

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
trackback

Ketika membaca berita Media Indonesia Minggu 13 Desember 1998 di halaman pentas tokoh, yang berjudul ‘Gede meninju ekonom’, saya teringat lagi dengan debat terbuka antara saya di satu sisi, dengan ekonom Pande Radja Silalahi dan Didik J. Rachbini di lain sisi di salah satu seminar.

Awalnya, moderator yang mengenal saya secara dekat memanggil saya untuk berargumen. Dasar seseorang dengan profesi dalang – bukan dalang kerusuhan, maka majulah saya ke mike.

Terus terang, telah lama saya tersiksa mendengar ramalan-ramalan kaum ekonom yang mengumbar ketakutan di sana-sini. Lebih menyiksa lagi, kita di dunia bisnis seolah-olah ditempatkan sebagai ‘tahanan’ lingkungan. Alias, hubungan bisnis dengan lingkungannya, seperti terpidana dengan penjaranya. Dan, terpidana hanyalah sebuah mahluk yang amat tidak berdaya di depan penjara.

Bagi saya sederhana saja. Informasi tentang ekonomi, politik dan apapun bentuknya, hanyalah bahan baku keputusan. Yang menentukan, bukan informasinya, melainkan bagaimana seseorang mengolah informasi tersebut ke dalam serangkaian keputusan.

Dalam proses pengolahan terakhir, keberanian dan keyakinan akan masa depan sangatlah menentukan. Yang menyiksa saya, keberanian dan keyakinan terakhir inilah yang sering dibuat hancur oleh ekonom penjual pesimisme.

Disamping itu, saya sangat tidak sepakat dengan penempatan bisnis sebagai terpidananya lingkungan. Lingkungan, demikian juga lingkungan ekonomi, bukan penjara kita. Ia menjadi penjara atau pembebas, tergantung seberapa cermat kita mengelolanya.

Untuk itu, dunia usaha saat ini memerlukan banyak sekali ‘Edi Tansil’, yang bisa dengan cermat keluar dari penjara-penjara yang dihadirkan banyak ekonom.

Kendatipun nama Edi Tansil asli kerap dipelesetkan dengan ejakulasi dini tanpa hasil, diidentikkan dengan penjahat pengusaha, ditempatkan sebagai maskotnya KKN, namun spirit ‘kreativitas’ dia lari dari ‘penjara’ – bukan penjara sebenarnya namun penjaranya kaum ekonom – patut diacungi jempol.

Terus terang, di masa krisis ini, kita sangat kekurangan ribuan bahkan jutaan ‘Edi Tansil’. Di saat ekonom secara serempak menyanyikan lagu keruntuhan dan kesengsaraan, kita membutuhkan orang yang justru berani membongkar dan merombak penjara keruntuhan dan kesengsaraan tadi.

Susah dibayangkan, kalau semua pengusaha, semua manajer dan pekerja tidak yakin dengan masa depannya. Pengusaha menutup perusahaannya. Manajer dan pekerja kehilangan pekerjaan. Dan, ekonompun jadi merana karena tidak ada yang mengundang mereka menjadi pembicara seminar.

Dalam lingkaran setan pesimisme yang mematikan ini, tidak ada yang diuntungkan. Kecuali mungkin, kalau ada ekonom yang merasa bangga bisa menjual ketakutan. Atau, politisi yang mau memancing di air keruh.

Setiap bentuk persoalan yang melingkar, menuntut keberanian untuk memotong lingkaran setan. Komponennya ada dua : keberanian memulai, dan keyakinan bahwa di balik setiap kesulitan ada kesempatan.

Berkaitan dengan keberanian, sejauh terkelola secara memadai, ia adalah sumber kemajuan dan banyak keajaiban.

Seorang ibu rumah tangga biasa tanpa pengalaman dan pendidikan memadai, karena keberaniannya, berhasil membangun fondasi demokrasi yang meyakinkan di Pilipina. Perempuan biasa ini bernama Cory Aquino.

Seorang Abraham Lincoln yang pernah terkena depresi mental, berulang-ulang gagal sebagai wakil rakyat, pengusaha dan wakil presiden, nekat mencalonkan diri jadi presiden AS. Dan, duniapun kagum dengan prestasi Abraham Lincoln.

Seichiro Honda berani membayar mahal hingga tangannya putus, untuk mencapai cita-cita menjadi pendisain piston. Di suatu kesempatan, ia bahkan berani menulis : sukses 98 % dibentuk oleh kegagalan.

Seseorang berumur 65 tahun, dengan satu-satunya kekayaan berupa uang pensiun sebesar $ 105, bermuka tebal memasuki ribuan restoran untuk menjual cara menggoreng ayam. Dan di restoran yang ke 1.009 baru idenya disambut. Manusia tua dan nekat ini bernama Kolonel Sanders.

Mirip dengan keberanian, keyakinan juga merupakan energi kemajuan yang amat luar biasa. Ibarat berjalan, dengan keyakinan untuk terus berjalan, kita bisa menemukan kenyataan bahwa di balik setiap pintu ada pintu. Di atas setiap langit ada langit.

Banyak ‘Edi Tansil-Edi Tansil’ bisnis yang bertutur – sebutlah Konosuke Matsushita, Thomas J. Watson, Akio Morita – bahwa potensi, tumbuh berkembang sejalan dengan meningkatnya keberanian dan keyakinan.

Awalnya hanya merasa berpotensi menjadi pemilik toko elektronik. Dengan keberanian dan keyakinan, potensi terakhir membesar menjadi pemilik pabrik. Bermodalkan hal yang sama juga, potensi pemilik pabrik ini tumbuh menjadi raksasa elektronika yang mendunia, dst, dst.

Nah, bercermin dari keyakinan dan keberanian inilah, maka banyak pengusaha, bankir, manajer dan pekerja yang saya tantang untuk menjadi ‘Edi Tansil’.

Boleh saja ekonom menghadirkan penjara-penjara kokoh. Pande Radja Silalahi, dengan seluruh angkanya, menghadirkan penjara bahwa banyak bank yang hanya bisa hidup sampai dengan bulan Maret 1999. Didik J. Rachbini membuat penjara yang tidak kalah menakutkan. Sri Mulyani menganalogikan ekonomi kita dengan badan yang penuh penyakit, lengkap dengan komplikasinya. Kwik Kian Gie jarang sekali bernada optimis tentang perekonomian ke depan.

Nah, sebagaimana Edi Tansil asli yang keluar dari penjara tanpa ketahuan, Andapun saya tantang bisa keluar dari ‘penjara-penjara’ yang dibuat banyak ekonom.

Bersama jutaan ‘Edi Tansil’ yang lain, Anda dan saya tidak hanya lari dari penjara ekonom, tetapi juga membangun sebuah masyarakat baru, di mana keyakinan dan keberanian berdiri pongah di atas angka-angka.

Bukan sebaliknya, angka-angka yang menghancurkan segala bentuk keyakinan dan keberanian.

Saya sering ditanya, dari mana datangnya keyakinan dan keberanian, bila angka tidak mendukung ? Sekarang saya tanya balik, apakah manusia-manusia seperti Cory Aquino, Abraham Lincoln, Kolonel Sanders, Konosuke Matsushita, Akio Morita dan Thomas J. Watson punya data sebelumnya, bahwa ia akan menjadi ‘Edi Tansil’ ?

Untuk sahabat saya Pande Radja Silalahi dan Didik J. Rachbini, tidak hanya Anda yang membuat penjara buat orang lain. Sayapun melalui artikel ini membuat penjara juga. Penjara Anda adalah ketakutan dan belenggu. Penjara saya adalah keberanian dan kebebasan. Sama bahayanya !. So, both you and I are the losers of ideas. Sebab, sama-sama memerangkap dan diperangkap. Atau, judul dialog terbuka ini bukannya ‘kejar daku kau kutangkap’ melainkan ‘kejar daku kita ditangkap’.

%d bloggers like this: