jump to navigation

Membuka Gembok-Gembok Kemajuan July 7, 2000

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
trackback

Mengakhiri tahun ini, saya akan berjalan lagi ke lima kota besar di Indonesia (Jakarta, Surabaya, Medan, Batam dan Yogya), berbagi pengalaman bagaimana memaksimalkan prestasi pribadi. Topik ini saya pilih, karena di masa krisis ini, tidak sedikit manusia yang layu sebelum berkembang. Belum apa-apa, sudah menyerah pasrah. Bahkan, tidak sedikit manusia yang sebenarnya tidak punya masalah berarti, namun ikut membungkus diri dengan kesulitan, terutama akibat lingkungan yang penuh dengan kesulitan.

Coba perhatikan orang yang baru bercerai dengan isteri. Ada yang bunuh diri kemudian. Ada juga yang mencari isteri baru yang lebih cantik. Amati kemacetan Jakarta yang tidak mengenal ampun. Sebagian orang ngedumel dan memaki-maki. Sebagian lagi menjalaninya sambil bernyanyi-nyanyi kecil.

Apa yang bisa ditarik dari dua contoh ini, yang membuat kejadian menjadi masalah bukannya kejadian itu sendiri, tetapi bagaimana kita mempersepsikan kejadian. Jadi, kuncinya terletak pada jendela persepsi.

Masuk ke pembahasan lebih dalam tentang jendela terakhir, persepsi tidak hanya menjadi pencipta dan pemusnah masalah, ia juga bisa menghadirkan gembok-gembok kokoh yang susah dibuka.

Tidak bisa, tidak mungkin, tidak berpengalaman, tidak berpendidikan, tidak cukup umur, terlalu tua, tidak pernah mencoba, tidak cocok, tidak punya bakat hanyalah sebagian kecil dari deretan gembok yang diproduksi persepsi. Kokoh tidaknya gembok-gembok terakhir, memang sangat relatif. Dan bisa tidaknya kita keluar dari sini, lebih banyak ditentukan oleh ketekunan dan keyakinan yang bersangkutan.

Mengenai prestasi manusia, sampai sekarang memang masih terjadi perdebatan, apakah kala lahir kita membawa modal bawaan atau tidak. Ada yang bertutur, bila yang kita bawa gelas kecil, maka di lautpun yang bisa diambil hanya segelas air. Jika yang dibawa kontainer, maka di kali kecilpun maka air yang diperoleh jadi banyak.

Bagi saya pribadi, gelas maupun kontainer bukanlah barang bawaan dari kandungan sang Ibu, ia adalah hasil produksi sang persepsi. Makanya, ada manusia lahir dari keluarga kaya dan terdidik, namun kemudian terperosok dalam kemiskinan. Ada juga yang lahir dari keluarga sederhana, namun beasiswa membawanya pada tataran kehidupan yang melompat.

Asal muasal banyak kemajuan, demikian bacaan dan pengalaman saya bertutur, berawal dari keberanian untuk membuka serangkaian gembok psikologis di atas.

Bill Gates hanyalah seorang manusia yang sekolahnya tidak selesai, namun prestasinya melewati banyak sekali manusia sekolahan. Cory Aquino hanyalah seorang perempuan biasa yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, tetapi merubah sejarah Pilipina secara meyakinkan. Singapura hanyalah sebuah pulau kecil dengan penduduk yang super kecil juga. Tetapi, negara ‘raksasa’ dengan ribuan pulau dan ratusan juta manusia, harus membayar ikhlas untuk banyak sekali biaya pelayanan. Anthony Robbins adalah seorang anak muda yang berpenyakit sejak lahir, namun menjadi kaya raya karena bangkit, dan kemudian membagi ‘ilmu’ kebangkitannya ke orang lain. Chin Ning Chu hanyalah perempuan muda yang merantau dari Cina ke Amerika, dengan modal yang amat terbatas, melamar ke sana ke mari tidak diterima. Namun, sekarang menjadi salah seorang pembicara yang mendunia. Kenji Eno adalah anak muda belum berumur 30 yang putus sekolah saat SMU. Sekarang, oleh Business Week disebut sebagai bintang Asia. Sejumlah pengamat industri bahkan menyebutnya sebagai ‘dewa’ industri game.

Saya bisa menambah contoh ini dengan sederetan contoh lainnya. Namun, baik Bill Gates, Cory Aquino, Anthony Robbins sama-sama berhasil membuka sejumlah gembok psikologis. Bayangkan, Bill Gates bisa menjadi ‘raja’ industri teknologi informasi dunia, setelah keluar dari belenggu ketidak mampuan akibat putus sekolah. Cory Aquino, bahkan lebih hebat lagi. Tidak sedikit yang menyebutnya dengan perempuan biasa yang tidak tahu diri. Banyak yang melihatnya sebelah mata di awalnya. Tetapi, ia keluar dari segala belenggu tidak mungkin tadi. Anthony Robbins, bila Anda rajin membaca karya-karyanya, pernah menjadi tukang sapu dan tukang pel lantai. Hanya sebuah keberanian luar biasa, yang bisa merubah diri dari tukang pel menjadi pembicara publik tingkat dunia yang sangat mahal. Chin Ning Chu juga sama, dalam sebuah seminarnya di Jakarta, ia bahkan mengemukakan, satu-satunya modal berguna yang dibawa dari Cina ke Amerika, hanyalah sebuah buku.

Cara membuka sejumlah gembok psikologis di atas, memang akan saya kemukakan secara komplit, di seminar di lima kota di atas. Namun, karena keterbatasan halaman izinkan saya menceritakan sebagian saja dalam kesempatan ini.

Pertama, to dream the impossible dream. Milikilah keberanian untuk bermimpi tentang kehidupan yang lebih baik. Ingat, mimpi, cita-cita dan sejenis adalah pompa yang membuat kehidupan berdenyut penuh semangat.

Kedua, the power of consistency. Lihatlah air yang menetesi batu yang sama terus menerus. Penyok juga bukan ? Demikian pula dengan keberhasilan dan kemajuan.

Ketiga, bermain-mainlah dengan ide. Tidak ada yang tidak mungkin bagi manusia yang berani bermain-main dengan ide. Lebih-lebih bila ditambah dengan keberanian untuk melaksanakannya.

Keempat, banjiri diri anda dengan dunia yang penuh kemungkinan-kemungkinan. Ia bisa dilakukan dengan membaca, melihat, mencoba dan positive self talk.

%d bloggers like this: