jump to navigation

Mengirim Surat Kepada Tuhan July 2, 2000

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
trackback

Menurut sebuah cerita yang tidak jelas asal usulnya, beberapa minggu sebelum Suharto lengser, ada seorang pegawai kantor post yang dipecat. Pasalnya, tukang stempel prangko ini berperilaku agak aneh. Setiap kali memberi stempel pada prangko yang bergambar presiden Suharto, dia pukul keras-keras sambil berteriak : ‘rasain lu !‘. Karena asal usul ceritanya tidak jelas, tentu saja saya tidak bisa mempertanggungjawabkannya.

Itu cerita dinamika kehidupan kantor post di republik ketoprak, dimana semua mau jadi pemimpin, dan tidak ada yang mau jadi bawahan orang lain. Awal desember lalu, stasiun TV HBO memutar film yang bertutur tentang dinamika kehidupan di kantor post Los Angeles.

Di kantor post terakhir, hampir setiap hari, ada saja surat yang ditujukan kepada Tuhan. Untuk itu, dalam kelompok surat yang bermasalah, disediakan kotak yang berisi surat-surat dengan tujuan sama : Tuhan.

Karena tidak tahu mesti diapakan surat-surat buat Tuhan ini, dan di AS ada undang-undang ketat yang melarang membuka surat orang lain, maka menumpuklah surat-surat ini jauh melebihi kapasitas kotak yang disediakan.

Lebih-lebih menjelang thanksgiving day, surat yang ditujukan kepada Tuhan semakin membengkak jumlahnya. Tukang sortir suratpun dibuat pusing olehnya. Seorang tukang sortir surat bernama Tom, diracuni oleh teman-temannya agar berani membuka salah satu surat buat Tuhan. Dengan sembunyi-sembunyi, kaum ‘makar’ ini membuka satu surat. Eh, ternyata isinya sangat membuat hati mereka tersentuh. Seorang tua, yang isterinya telah lama meninggal, tidak memiliki siapa-siapa untuk diajak bicara, pesimis bisa menemukan teman hidup, menulis : ‘Tuhan saya akan bunuh diri dengan menceburkan diri ke laut pada hari….

Tentu saja semua pembaca surat kalang kabut, dan seperti dihadapkan pada kewajiban untuk mencegah petaka kehidupan itu terjadi. Maka, bersiap-siaplah mereka membolos kantor untuk menyelamatkan sebuah nyawa.

Merasa ketagihan, kelompok makar ini sering membuka surat buat Tuhan. Salah satunya, surat seorang pengamen yang terompetnya dirampok orang. Alhasil, hidup pengamen ini terancam karena periuk nasinya dirampok. Salah seorang dari kelompok makar tadi, sangat tersentuh dengan nasib pengamen ini. Dia keluarkan sebagian tabungannya untuk membeli terompet baru dan bagus, dan dia kirim ke pengamen tadi.

Lama-lama, skandal perbuatan melawan hukum dalam bentuk membuka surat orang lain inipun ketahuan. Terutama karena ada banyak orang datang ke kantor post, mengirim surat buat Tuhan, dan mengharap datangnya kejaiban.

Singkat cerita, masuklah kasus ini ke meja pengadilan. Dan, si Tom tadilah terdakwanya. Anehnya, manusia biasa yang merekayasa keajaiban Tuhan inipun menemukan keajaiban. Semua pegawai post lengkap dengan armada postnya, turun berdemonstrasi di depan pengadilan, sampai-sampai memacetkan seluruh kota. Keputusan pengadilan, mudah ditebak, Tom bebas.

Anda boleh saja skeptis dengan cerita di atas, dengan menyebut : ‘ah, film !‘. Akan tetapi, spirit yang dihadirkan cerita film ini adalah spirit hidup mencintai orang lain.

Meminjam kerangkanya Shatki Gawain, penulis buku The Four Levels Of Healing, ada dua bentuk fundamental cinta : spiritual love dan human love.

Dalam klasifikasi cinta yang pertama, Anda terkait secara amat erat dengan spirit dan esensi hidup Anda, alam semesta serta kebersatuan dengan ciptaan Tuhan yang manapun. Jenis cinta ini, masih menurut Gawain, adalah unconditional love. Memberi tanpa mengharapkan hasil.

Klasifikasi cinta yang kedua meliputi kebutuhan-kebutuhan pribadi seperti kebutuhan fisik, emosi maupun mental. ‘It’s not unconditional love’, tulis Gawain.

Kedua jenis cinta ini, sebenarnya saling terkait. Cinta spiritual akan sangat terganggu bila secara emosional Anda terganggu, tidak tahu bagaimana mencintai diri sendiri dan kehidupan, dan tidak tahu bagaimana hidup dengan our sense of truth. Jadi, titik berangkatnya, mulai dengan mencintai sang aku.

Di masa kecil, saya pernah mengalami gangguan di sisi keyakinan akan diri sendiri. Sejumlah rekan menyebut saya hidung besar, hidung kerbau, lobang hidung terbesar dan hinaan sejenis. Hampir sepanjang masa kecil saya, diwarnai oleh ketakutan melihat hidung sendiri. Sampai-sampai, pernah bercita-cita akan mengoperasi plastik hidung kalau punya uang kelak.

Dalam perjalanan menyembuhkan diri sendiri ini, belakangan saya bertemu seorang rekan pengusaha Chinese yang mengerti betul seluk beluk hoki. Sampai-sampai buku yang asli dari Cina sana ia perlihatkan ke saya. Ternyata, hidung yang tadinya menjadi sumber minder ini, katanya mengandung hoki yang amat besar. Dan, entah dari mana datangnya energi, saya tidak lagi menggendong rasa minder akibat hidung. Lebih dari itu, tubuh ini rasanya demikian ringan untuk diajak mencintai orang lain dan semesta.

Apa yang mau saya ceritakan melalui pengalaman kecil ini, dengan kesediaan untuk menerima sang aku, lengkap bersama kekurangan yang paling menjengkelkan sekalipun, saya dibekali energi besar untuk mengatakan I love you kepada anak, isteri dan juga komunitas semesta.

Sebagaimana langkah penyembuhan yang ditulis Shatki Gawain : ‘Learn to accept and appreciate yourself, learn to love even your “unlovable” parts, and you will see that love just blossoms with in you and around you’.

Dan, Andapun tidak perlu mengirim surat kepada Tuhan.

%d bloggers like this: