jump to navigation

Indonesia Tanpa Kepala July 2, 2000

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
trackback

Di dunia kepemimpinan politik Indonesia, ada satu hal yang tidak disukai banyak orang : pengkultusan. Baik di zaman Suharto maupun zaman Soekarno, kegiatan model terakhir tidak disukai. Bahkan, ia tidak disukai oleh pemimpin yang dikultuskan. Suharto berulang-ulang menyatakan hal terakhir. Tetapi, suka atau tidak, percaya atau tidak, praktek pengkultusan terjadi hampir sepanjang sejarah dua pemimpin di atas berkuasa.

Agaknya, sejarah akan terulang kembali. Mereka yang anti Habibie menyebut bahwa pendukung Habibie sudah menjurus ke pengkultusan. Sebab, dosa-dosa besar Habibie mau dikubur dalam-dalam, dan kelebihannya ditonjolkan tinggi-tinggi. Demikian juga dengan kelompok yang anti Megawati. Dengan seluruh kediamannya – meminjam argumen mereka yang anti Megawati – Megawati sedang didudukkan dalam kursi can do no wrong. Di sejumlah partai politik besar, hal yang sama juga terjadi. Apapun yang menjadi pernyataan pemimpinnya, otomatis menjadi pernyataan organisasi. Yang paling menyedihkan, di Perguruan Tinggi – tempat bibit-bibit intelektual masa depan sedang dibentuk – masih saja tersedia pengajar yang mau dirinya dipuji tanpa dikritik.

Kalau boleh bertutur jujur, efek paling berbahaya dari pengkultusan adalah tidak berfungsi optimalnya kepala manusia. Alias menghina Tuhan. Disebut menghina, karena Tuhan menciptakan kepala manusia untuk difungsikan jauh lebih tinggi dari sekadar mengangguk.

Begitu kerja kepala manusia hanya mengangguk, derajat manusia sudah melorot jauh ke bawah setingkat pohon, kursi, batu dan benda mati lainnya. Binatang saja kalau disuruh-suruh kadang menolak dan memberontak. Namun, kalau ada manusia yang hanya bisa mengangguk, itulah bentuk pelecehan kepala manusia yang amat mengerikan. Entah, sebutan apa yang cocok untuk manusia jenis ini.

Yang jelas, dalam komunitas manusia tanpa kepala ini, tidak mungkin tumbuh iklim dan gizi demokrasi yang memadai. Sebaliknya, sebagaimana dituturkan oleh sejarah demokrasi negara maju secara amat rapi, demokrasi tumbuh rapi dan sehat dalam komunitas manusia yang rajin menggeleng dan mengatakan tidak.

Di lahan terakhirlah, terlahir pemimpin-pemimpin dengan kualitas yang amat membanggakan. Tumbuh generasi masa depan yang cerdas dan peka akan masa depan. Dan yang peling penting, tabungan masa depan yang menjanjikan, sedang ditumpuk oleh komunitas manusia yang suka menggeleng ini.

Menyaksikan dialog sehat seperti BPPN (badan penyehatan perbankan nasional) dihujat di mana-mana, Menteri Keuangan dituduh melanggar undang-undang anggaran negara oleh DPR, Menteri Negara BUMN dihadang spanduk di banyak tempat, Bank Indonesia dicurigai sebagai sarang penyamun, atau yang paling penting pencalonan presiden lebih dari satu dengan mekanisme persaingan sengit namun sehat, bagi saya amat membahagiakan.

Sayangnya, sejumlah kelompok yang secara potensial akan menjadi penentu kebijakan masa depan, masih saja diselimuti oleh kabut tebal pengkultusan. Ini tidak saja membuat mereka akan ditinggalkan kemajuan masyarakat. Namun yang lebih mengerikan, mereka sedang melukis wajah masa depan yang amat muram.

Lebih penting dibandingkan dengan pengkultusan eksternal ala pemimpin, bentuk pengkultusan yang lebih berbahaya sebenarnya pengkultusan internal (baca : paradigma). Disebut lebih berbahaya, karena pengkultusan eksternal jelas musuhnya ada di luar. Sedangkan pengkultusan internal, ia berselimut rapi dengan diri kita sehingga hampir tidak kelihatan. Dan proses mengangguknya tidak eksplisit, sering malah tidak kelihatan dan tidak dirasakan.

Tidak berubahnya secara mendasar paradigma pemikiran sejumlah pembentuk opini publik, menunjukkan secara amat jelas, betapa parahnya pengkultusan internal di negeri ini.

Ada ekonom yang dari dulu hingga sekarang hanya berputar-putar di satu paradigma saja. Ada komunitas pejabat yang sudah berganti baju dengan baju reformasi, tetapi paradigma korupsinya masih sama. Ada manusia swasta yang diharapkan menjadi darah segar di birokrasi, ternyata menjadi lebih birokrat dibandingkan mereka yang sejak awal jadi birokrat. Ada konsultan manajemen yang bolak-balik menulis satu-satunya model yang ia jual di mana-mana. Ada wartawan yang hanya mengenal satu kamus : kebencian. Inilah bentuk-bentuk pengkultusan dan pemberhalaan paradigma.

Gabungan antara pengkultusan eksternal ala pemimpin, dengan pengkultusan internal berupa keyakinan berlebihan akan satu paradigma, membuat mendung demokrasi dan inovasi negeri ini tambah kelam dan gelap.

Produk-produk dari masyarakat tanpa kepala sebenarnya sudah banyak. PAKTO (penyakit akut, konyol dan tolol), KORPRI (kelompok orang-orang prihatin), IMF (Indonesia memang farah), GBHN (gaji besar hanya nongkrong), sapu jagat (saya punya jangan digugat), DPR yang bisa membangkrutkan Srimulat karena demikian lucunya, BI (bantu istana), hanyalah sebagian kecil saja dari produk Indonesia Tanpa Kepala.

%d bloggers like this: