jump to navigation

Selamat Datang Kebingungan June 17, 2000

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
trackback

Menurut sebuah cerita yang mengundang tawa, suatu hari ada orang asing yang meninggal di Indonesia. Demikian baiknya orang asing tadi ketika hidup, sampai-sampai Tuhan memberi kesempatan untuk memilih antara surga dan neraka. Maka ia minta izin untuk melakukan survey lapangan. Ketika melintas di depan surga, orang asing tadi melihat banyak pendeta, pastur, kiai yang membaca buku-buku suci. Di neraka lain lagi. Ada banyak sekali penghibur di tempat ini. Ada penyanyi, pelawak, sampai dengan wanita mantan bintang film cantik terkemuka yang menggoda.

Setelah berfikir-fikir agak lama, ia minta izin ke Tuhan agar masuk neraka saja. “Lebih banyak hiburan“, demikian ia berargumen meyakinkan. Dan Tuhanpun hanya bisa mengiyakan. Oleh karena hari itu hari minggu libur, maka ia hanya diizinkan masuk neraka besok harinya. Akan tetapi besoknya, di menit pertama ia menemukan wajah neraka yang amat berbeda. Ada orang digantung, dibakar, disiksa dan jeritan banyak orang yang membuat bulu kuduk berdiri. Dan iapun protes ke Tuhan, kenapa wajah neraka amat berbeda dengan pekan sebelumnya. Dengan tenang Tuhan menjawab : “minggu lalu kan pekan promosi“. Dengan fikiran kesal orang asing tadi pergi sambil bergumam : “dasar Indonesia, Tuhan saja tidak bisa dipercaya apa lagi pemerintahnya“.

Anda boleh saja tersenyum atau tersinggung dengan cerita hayal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan ini. Yang jelas, menyusul ditutupnya pabrik bubur kertas PT Inti Indorayon, ancaman BI tentang kemungkinan dilikuidasinya bank Bali, atau penutupan PT Newmount Minahasa Raya. Ditambah dengan ramalan segelintir orang bahwa akan ada revolusi Mei 2000 menyusul dibentaknya pasukan Jihad oleh Gus Dur, maraknya demonstrasi kenaikan gaji karena keputusan tunjangan struktural pejabat tinggi, sampai dengan ditundanya kenaikan harga minyak. Digabung menjadi satu, Indonesia sekarang-sekarang ini memang memasuki situasi intellectual anomie. Tidak cukup sekadar intellectual instability, namun sudah memasuki anomali intelektual. Di mana kebanyakan orang tidak hanya berani berbeda, namun juga berani menghujat dan menempatkan argumen orang lain di bawah telapak kaki. Termasuk argumen presiden sekalipun. Lihat saja argumen presiden mengenai pencabutan TAP MPR tentang komunisme. Ia dihadang demo dan penghujatan di sana-sini. Sejumlah menteri – terutama di lingkungan ekonomi – malah duduk di posisi yang maju kena mundur kena. Bicara salah, tidak bicara juga salah. Apa lagi argumen orang biasa, belum apa-apa sudah layu sebelum diinjak orang.

Ibarat orkes simponi, kalau dirigennya saja dihujat, apa lagi anggota orkestra yang lain. Maka jadilah bangsa ini seperti orkestra tanpa aturan dan tanpa arah. Jangan tanya saya hasil berupa musik yang masuk ke dalam telinga. Telinga tidak pecah dan dibikin tuli saja sudah untung. Seorang rekan yang rajin membaca koran dan majalah mengeluh ke saya, katanya kita rugi dua kali kalau membaca berita. Rugi pertama, harus bayar. Rugi kedua, fikiran tidak dibuat tambah jernih malah tambah kotor. Tidak membaca berita malah lebih rugi lagi, karena dibuat bengong-bengong seperti orang bodoh yang lebih bodoh dari yang paling bodoh.

Jadi mirip dengan orang asing yang kebingungan di pintu neraka tadi yang bahkan tidak mempercayai Tuhan sekalipun, kitapun kebingungan mencari orang yang bisa dipercaya. Orang yang jadi presiden melalui pemilu yang demokratis, serta proses pemilihan yang paling transparan saja tidak dipercayai, kita mau diajak mempercayai siapa?

Seorang sahabat yang sempat mendengar pertanyaan terakhir, bertanya balik ke saya : “Anda bertanya ke siapa?,” “Bukankah kita semua sudah tidak punya telinga untuk mendengar pertanyaan orang lain?“. Entahlah, yang jelas saya mengalami kesulitan untuk mengkerangkakan perjalanan Indonesia sekarang ini. Adakah ia berbentuk linier, siklus atau melingkar seperti spiral?. Kesulitan timbul, karena ada diskontinyuitas dalam perjalanan kita. Korea setelah pemilu yang demokratis, ekonominya bangkit, dukungan dari mana-mana menguat tanpa perlu presidennya keliling dunia. Di sini, Anda tahu sendirilah ceritanya.

Anda boleh saja berteori tentang euforia reformasi yang kebablasan, atau melempar kambing hitam ke rezim orde baru yang amat senang menekan, atau malah menyebut pasangan Gus Dur-Megawati kurang minum obat kuat. Apapun teori dan alasannya, kita tetap saja kebingungan. Anda boleh menyebut kebingungan sebagai gerbang kehancuran, namun saya mensyukurinya sebagai the starting point of new paradigming. Inilah titik awal dari terbitnya mata hari baru Indonesia. Di mana kita tidak lagi berdiri di atas stabilitas yang semu. Tidak lagi tidur dibuai oleh janji-janji pertumbuhan yang menyilaukan. Tidak lagi berdemokrasi di atas diperkosanya secara amat keji perbedaan.

Nah kalau ini basis berfikirnya, pertanyaan siapa yang layak dipercaya di negeri ini tidak lagi relevan. Sama tidak relevannya dengan cerita awal tentang orang asing yang tidak mempercayai Tuhan. Betapa bingungpun keadaan, saya tetap mempercayai masa depan. Satu-satunya pilihan yang tersedia buat siapa saja yang mendambakan kemajuan. Terserah Anda !.

%d bloggers like this: