jump to navigation

Hipnotis Massal Ala Amerika June 17, 2000

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
trackback

Di tahun 1980-an, ketika sekolah bisnis masih mengandung nilai magis, karena menjadi satu-satunya tempat menoleh tatkala ada persoalan, Michael Porter pernah ditempatkan bak seorang dukun.

Bayangkan, hampir tidak ada satupun sekolah bisnis di bawah kaki langit ini yang absen dari karya Porter. Demikian juga dunia konsultansi, pekat dengan karya-karya Porter.

Bila kita menggunakan empirisme sebagai satu-satunya kriteria dalam menilai karya Porter, akan keluar kesimpulan : scientific. Sebab, hampir semua karyanya – dari competitive strategy hingga competitive advantage of the nations – berdiri di atas penelitian empiris yang tidak diragukan.

Hasil gabungan antara basis empirisnya yang kuat, Harvard sebagai tempat Porter mengajar, serta kemampuan pemasaran orang Amerika untuk ‘menjajah’ dunia intelektual melalui buku-buku terbitan mereka, serta sekolah bisnis yang mengangguk rapi ke banyak hal yang datang dari Amerika, maka jadilah karya Porter sebagai alat hipnotis massal yang amat berpengaruh.

Ketika Porter masih jaya, hampir semua persoalan – terutama berkaitan dengan strategi – dilihat melalui kaca mata Porter. Namun, begitu reputasi Porter menurun, hipnotis massal ala Amerika tetap saja berjalan. Kendati, nama yang dibawa berbeda serta judul konsepnya berganti. Michael Hammer dengan reengineering, Peter F. Drucker melalui MBO, Chris Argyris bersama organizational learning, hanyalah sebagian kecil dari hipnotis massal yang dilakukan Amerika.

Dari satu sisi, terutama dengan derasnya ilmu yang datang dari negeri paman Sam ini, mereka memang sedang memperkaya. Akan tetapi, kerelaan banyak orang yang hanya bisa mengangguk pada hipnotis ala Amerika ini, sebenarnya sedang memperpanjang sejarah pembodohan.

Sangat sedikitnya buku manajemen karya bangsa sendiri, banjirnya kasus-kasus manajemen ala Amerika yang digunakan bahan kajian di sekolah bisnis, kesenangan banyak intelektual mengutip karya-karya Amerika, serta demikian demamnya publik manajemen akan karya made in America adalah sebagian bukti yang menunjukkan, betapa efektif hipnotis massal ala Amerika ini. Sebagai hasilnya, ada jutaan kepala yang dengan penuh kerelaan diperkosa, dicampakkan dan diinjak-injak kreativitasnya.

Dalam salah satu penerbangan dari Jakarta ke Semarang, Teddy Pawitra – seorang tokoh intelektual di bidang pemasaran – pernah mengeluh ke saya, betapa dahsyatnya proses Kotlerisasi dalam dunia marketing Indonesia dari dulu hingga sekarang. Demikian dahsyatnya, sampai di hampir semua sekolah bisnis yang mengajarkan marketing menggunakan buku Philip Kotler sebagai pedoman.

Saya yakin dan yakin sekali, Porter dan Kotler pasti tidak menggunakan dukun untuk membuat publik manajemen demikian terbius fikirannya. Disamping itu, tidak ada satupun provokator Indonesia yang disewa Kotler sehingga kita demikian tunduk ke ide-ide Amerika.

Ini semua mengingatkan saya ke dunia dukun dan hantu. Di sejumlah masyarakat yang masih mempercayai kehadiran dukun dan hantu, setiap kali ada orang yang memperlihatkan gejala-gejala aneh, selalu saja dikaitkan dengan fenomena dihipnotis dukun atau hantu. Cirinya sederhana saja, apa saja kehendak sang dukun dan hantu, orang tadi hanya bisa ikut dan nurut.

Yang membuatnya menarik, dunia intelektual yang menyebut semua idenya dengan sebutan scientific, menyebut dunia hantu dan dukun ini unscientific. Bahkan, ada yang memasukkannya ke dalam kotak tahayul.

Dengan contoh-contoh hipnotis ala Amerika di atas, bagaimana dunia scientific management bisa menjelaskan dirinya yang sedang dibius tidak sadarkan diri?.

Ada banyak dosen perguruan tinggi yang baru merasa mengajar kalau sudah mengutip teori Amerika. Ada konsultan manajemen yang percaya dirinya baru tumbuh setelah lulus dari Amerika. Ada praktisi yang hanya percaya pada ide yang datang dari Amerika. Ada pembimbing S3 yang hanya menyetujui studi kepustakaan bila mahasiswanya sudah membaca sederetan buku Amerika.

Sama dengan orang kampung yang dicurigai sedang dihipnotis dukun dan hantu. Bukankah publik manajemen juga sedang dihipnotis oleh ‘hantu’ Amerika?

Mau bukti tambahan? Coba perhatikan referensi disertasi S3 dan tesis S2 di bidang manajemen. Lihat lagi kurikulum manajemen yang dikembangkan di Universitas-Universittas terkumuka di negeri ini. Seorang sahabat yang menentukan nasib kurikulum di sebuah perguruan tinggi terkemuka di negeri ini, pernah bertutur kalau buku Henry Mintzberg dkk – yang berjudul Strategy Safari – sedang digunakan acuan untuk menata kembali kurikulum sekolah manajemen.

Kalau penentu-penentu wajah kehidupan masa depan – sebagaimana sahabat di atas – saja demikian terbius dengan hipnotis ala Amerika, bagaimana dengan murid-murid sekolah manajemen yang akan membentuk wajah dunia kemudian? Kalau demikian, apakah fungsi sekolah manajemen hanya menjadi kepanjangan tangan saja dari hipnotis massal ini?

Ah, saya ini memang orang usil. Seorang rekan bahkan pernah mengeluh, kalau saya lebih liar dan usil dari Ivan Illich dengan konsep deschooling society-nya.

Apapun kata orang, Anda saya kira tidak bisa membantah kenyataan kalau kitapun sering dibuat pusing oleh usil dan liarnya kecenderungan. Dikira ke kiri malah maju. Diramalkan aman malah rusuh. Diantisipasi bakal bergejolak eh justru stabil.

Penulis novel filsapat Robert M. Pirsig dalam novelnya yang berjudul Zen and The Art of Motorcycle Maintenance pernah menulis :

“The laws of science contain no matter and have no energy either and there fore do not exist except in the people’s mind. It’s best to be completely scientific about the whole thing and refuse to believe in either ghost and the laws of science. That’s why you are safe. That does not leave you very much to believe in, but that’s scientific too.”

Nah saya kira sudah jelas. Tidak hanya Amerika saja yang sedang menghipnotis Anda. Saya dan Pirsig-pun sedang menghipnotis Anda. Anda sedang melakukan kekeliruan besar kalau percaya berlebihan dengan tulisan ini.

%d bloggers like this: