jump to navigation

Menjadi Manusia Mati June 14, 2000

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
trackback

Seorang rekan eksekutif yang lama bekerja di Aceh, pernah bertutur tentang pengalamannya mengintip seorang tentara yang dihukum di salah satu  DOM (daerah operasi militier) di Aceh.  Ketika terhukum diminta membacakan sapta marga, dengan menahan tawa eksekutif tadi mendengar jawaban seperti berikut. ‘Sapta Marga : satu, tidak berubah. Dua, tidak berubah. Tiga, tidak berubah’. Tentu saja jawaban dengan logat ‘T’ ala orang aceh ini langsung dipotong sang komandan : ‘Apa maksud kamu ?’. Dengan ekspresi ketakutan terhukum menjawab : ‘Dari dulu seperti itu’.

Satu spirit dengan cerita unik ala Aceh ini, jawaban yang paling saya benci bila berhadapan dengan klien adalah : ‘dari dulu seperti itu’. Kalimat ini memberikan kesan ke saya, bahwa selama orang ini bekerja hanya melaksanakan segala hal yang sudah ada. Lebih dari itu, semakin banyak orang yang berargumen seperti ini, semakin mungkin organisasinya terkena kanker learning diasbilities.

Padahal, gelombang perubahan yang demikian dahsyat, sudah sering tidak menyisakan sedikitpun organisasi yang hanya berisi museum. Lihat saja ‘almarhum’ perusahaan yang menjulang di zaman orde lama maupun orde baru. Atau, bangsa-bangsa yang sedang dilanda krisis total. Semuanya mengindikasikan satu penyakit  yang sama : learning disabilities.

Ciri-ciri penyakit terakhir, di permukaan, terlihat jelas dalam keengganan untuk berubah, mengulangi keputusan dan cara yang sama secara berulang-ulang, tidak sensitif terhadap perbedaan, dan bahkan memaksa dan memperkosa setiap perbedaan. Di tingkat yang agak lebih dalam, Donald Schon dari MIT, pernah memberikan perangkat yang bisa digunakan untuk melihat parahnya kanker learning disabilities. Ia membandingkan antara theory in use (baca : praktek) pada time 1 dengan  theory in use pada time 2.

Bila praktek pada waktu pertama secara substansial sama saja dengan praktek di waktu kedua, maka bisa dikatakanan organisasi terkena kanker learning disabilities.

Ukuran untuk menyimpulkan, apakah praktek di waktu satu sama atau tidak dengan di waktu dua, disamping menggunakan pembanding diri sendiri secara historis, juga menggunakan pembanding orang lain yang lebih maju. Bila orang yang lebih maju memiliki selisih  sepuluh (baca : praktek di waktu dua lebih besar sepuluh dibandingkan praktek di waktu satu), sedangkan kita hanya memiliki selisih dua saja, maka siap-siaplah menghadapi gelombang pasang perubahan yang mengerikan.

Bila saya meminjam kerangka Donald Schon ini untuk menganalisis krisis yang sedang melanda banyak organisasi, tampak jelas praktek di waktu satu tidak banyak berbeda dengan praktek di waktu dua. Manajemen Suharto, selama tiga puluh dua tahun tidak mengalami perubahan praktek yang berarti. Selisih antara praktek di tahun satu dengan praktek di tahun yang ke tiga puluh dua, hampir tidak ada. Fundamennya relatif sama : dwi fungsi ABRI, Panca Sila dan UUD 45 dengan seluruh monopoli penafsirannya. Gaya darurat bahkan menjadi warna yang tidak pernah berubah. Penculikan, penembakan, dan penangkapan terjadi berulang-berulang dalam waktu dan tempat yang berbeda. Manajemen PT Orde Baru juga sama saja. Fundamennya hanya dua : mencari cantelan ke penguasa, dan berjalan seperti kapilah yang tidak menghiraukan tetangga menggonggong.

Sebagai hasilnya, Anda sudah lihat sendiri tanpa perlu banyak dikomentari. Sebagai sebuah ide, analisis ala Donald Schon ini memang tampak mudah dan sederhana. Namun, pelaksanaannya menjadi rumit karena melibatkan banyak sekali faktor yang lebih dari sekedar manajemen perubahan yang sederhana. Akan tetapi, sulit mengingkari kenyataan bahwa kemewahan untuk hidup di comfortable zones telah membuat banyak orang memihak secara berlebihan pada status quo.

Kesuksesan, kesenangan, kenikmatan adalah sebagian dari sekian banyak comfortable zones yang bisa menjadi bibit-bibit subur penyakit learning disabilities. Makanya, ketika orde baru masih berjaya, lagu yang paling sering dinyanyikan pejabatnya adalah ‘kemesraan ini janganlah cepat berlalu…’. Di zaman reformasi ini, konon nyanyian pejabatnya berjudul ‘kucoba untuk bertahan’. Belajar dari ribuan, atau bahkan jutaan organisasi yang dibuat tidak berdaya oleh kanker terakhir, ada baiknya untuk meninggalkan comfortable zones saat kesuksesan masih di tangan.

Joseph Goldstein dan Jack Kornfield dalam The Path of Insight Meditation pernah menulis : ‘living fully means jumping into the unknown, dying to all our past and future ideals, and being present with things just as they are’. Ini berarti, untuk hidup secara penuh di zaman edan ini, kita mesti berani menjadi manusia ‘mati’. Mati dari masa lalu. Mati dari masa depan. Melompat ke daerah yang tidak diketahui. Dan hanya hidup dalam masa sekarang sebagaimana adanya.

Terus terang, tidak mudah membuat diri apa lagi organisasi mati seperti itu. Lebih-lebih berani masuk ke wilayah yang tidak diketahui. Hanya saja, karena penyakit learning disablities demikian mengerikannya, kita tidak punya pilihan lain kecuali menelan pil pahit dan sulit : menjadi manusia mati.

Tidak perlu bunuh diri tentunya. Tetapi sangat direkomendasikan untuk membunuh segala kemanjaan  dan kebiasaan yang dihadirkan comfortable zones. Sebelum dibuat punah sebagaimana dinosaurus, lebih baik mematikan diri ketika kepunahan itu belum datang. Sayangnya, sebagaimana dialami banyak manusia, berbagai macam kenikmatan tadi, membuat manusia takut akan kematian, untuk kemudian hidup tanpa perubahan. Mirip dengan tentara yang dihukum sebagaimana cerita di awal tulisan ini. Ia hanya mengenal dua kamus : tidak pernah berubah, dan dari dulu seperti itu.

Padahal, dengan memasuki rasa sakit dan kematian tadilah penyakit learning disabilities bisa dihindari.

Microsoft justru semakin melaju dengan dituntut secara hukum di sana-sini. Soichiro Honda berhasil di atas rasa sakit yang mengakibatkan tangannya putus. Konosuke Matsushita memaksa dirinya menjadi boros tatkala orang pelit di zaman depresi tahun 30-an. William Surya Jaya disebut pahlawan agribisnis setelah ditumbangkan dari singgsananya yang empuk di Astra.

Anda mau ‘mati’ ? Silahkan, dan tidak usah membawa-bawa nama saya sebagai biang kerok. Mau mati kek, mau hidup kek, emangnya gue fikirin ?

%d bloggers like this: