jump to navigation

Tindakan Kecil Tidak Dikenal June 28, 2000

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
comments closed

Di kota Liverpool Inggris, tempat John Lenon melahirkan kelompok musik yang pernah merubah sejarah dunia, saya pernah mengalami sebuah pengalaman kemanusiaan yang amat menyentuh.

Setelah antre cukup lama di kantor imigrasi, guna memperpanjang visa isteri saya, lebih-lebih setelah mendengar orang di antrean depan ditanya dan dimaki sana-sini, hati ini sempat kecut juga. Belum lagi ditambah dengan stok tiket return yang batasnya hari itu juga. Plus tidak ada uang untuk menyewa hotel kalau terpaksa menginap. Begitu cekaknya keuangan, bekalpun membawa dari kota Lancaster yang berjarak sekitar empat jam perjalanan kereta api.

Sesampai di depan petugas, saya terangkan maksud kedatangan saya. Ketika petugas tahu, bahwa visa yang mau diperpanjang adalah visa isteri, ia bertanya apakah saya membawa akte pernikahan. Busyet, saya lupa membawanya. Kalaupun saya bawa, pasti ia tidak mengerti karena dalam bahasa melayu.

Saya sudah siap-siap mental dimaki sebagaimana orang Pakistan di depan, atau disuruh kembali lain waktu. Tiba-tiba saja saya ingat lagu John Lenon yang berjudul Imagine, yang bertutur mengenai mimpi John tentang kehidupan manusia yang tanpa agama, bangsa dan atribut lain yang memisahkan.

(more…)

Advertisements

Besar Karena Kurang Ajar June 28, 2000

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
comments closed

Majalah Forbes edisi 26 Juli 1999 memuat daftar dua belas manusia ‘kurang ajar‘ yang merubah dunia Web. Sebuah dunia, yang diyakini banyak orang sedang mewarnai wajah masa kini dan masa depan. Dengan judul ‘The e-Gang, Twelve mavericks who are rewriting the rules of web‘, Forbes menyajikan rangkaian cerita yang amat menarik perhatian saya.

Sebagai gambaran awal, dua belas manusia ini amat bervariasi. Berumur diantara 23 sampai 63 tahun ini. Kebanyakan bekerja di lembah Silicon. Sebagian dari mereka adalah milyarder, yang lain mengendarai Pontiac, ada juga hanya mengembangkan teknologi dan diserahkan penjualannya pada perusahaan lain. Namun, mereka memiliki satu hal yang sama, dalam bahasa Forbes : a fierce willingness to flout conventional wisdom. Alias, kemauan yang kuat, serta kesenangan yang mendalam untuk melecehkan kebijakan-kebijakan konvensional.

Betapa kurang ajarnya dua belas manusia ini. Sementara kebanyakan orang hanya bekerja dan berfikir dalam bingkai-bingkai umum, mereka malah menghina, mencemooh dan melecehkan bingkai terakhir.

(more…)

Bali : Bagian Atas Licin June 24, 2000

Posted by lenterahati in Gede Prama, Uncategorized.
comments closed

Dalam urusan gangguan rambut, saya sering diledek sudah sampai di tingkat satu : agus (agak gundul sedikit). Di tingkat dua, nama berganti menjadi robert (rontok berat). Berikutnya, bermetamorfose menjadi umar bakri (untung masih ada rambut belakang kanan dan kiri). Kemudian sebutannya wagub (wah gundul banget). Selanjutnya menjadi gunawan (gundul namun menawan). Dan yang paling parah, diberi nama bali (bagian atas licin).

Mencermati skandal drama panjang Bank Bali, yang disertai banyak plintat-plintut, maju-mundur, sana-sini, bohong membohongi, sehingga demikian menjengkelkan, saya teringat lagi dengan penyakit rambut yang paling parah tadi : bagian atas licin.

Bagaimana tidak licin, mereka yang berada di pucuk piramida skandal, tidak hanya lihai, licik dan tidak tahu malu. Namun juga demikian lincahnya, sampai-sampai menteri sekretaris kabinet, yang nota bene secara formal berada amat dekat dengan pusat kekuasaan, dan dijabat bukan oleh orang bodoh, didikte harus membacakan surat pernyataan, yang kemudian di depan DPR disangkal oleh Rudi Ramli.

Ibarat menempuh perjalanan, aktor-aktor skandal bank Bali telah memilih jalan yang amat licin. Sebagaimana nasehat orang tua, bila bermain air basah. Bermain api terbakar. Ada saatnya mereka yang menempuh jalan licin pasti akan terpeleset.

Lebih-lebih berjalan licin dilakukan oleh manusia-manusia yang dibuat gelap oleh nafsu, keinginan dan keserakahan kekuasaan. Lihat saja pada catatan sejarah. Tidak ada satupun penguasa licin dan licik yang tidak berakhir di jurang kekuasaan yang mengenaskan. Marcos, Pinochet, Mugabe adalah sebagian kecil dari manusia yang mengambil jalur licin dan licik, dan berakhir menyedihkan.

Sayangnya, sejarah hanya menjadi pelajaran yang amat berguna setelah tragedi terjadi pada diri kita sendiri. Ini juga yang menyebabkan, kenapa setiap era selalu memproduksi pemain-pemain kekuasaan yang licin dan licik.

Mungkin saja saya sejenis manusia yang amat naif. Akan tetapi, berspekulasi hidup di jalan licin, adalah satu hal yang tidak pernah saya coba. Oleh karena itulah, saya menaruh sangat sedikit respek pada manusia-manusia licin ala pemain skandal bank Bali. Lebih-lebih, kalau mereka menyandang predikat sebagai pemimpin. Disamping membohongi diri sendiri, ia juga meracuni masyarakat.

Coba perhatikan secara lebih cermat, bagaimana orang-orang biasa yang berjalan di jalan yang amat licin. Hidup akan senantiasa dibayangi ketegangan dan katakutan terpeleset. Situasi damai, tentu saja jauh dari jangkauan orang-orang terakhir. Ini tentu saja normal, wajar dan biasa. Yang tidak normal dan kurang ajar, bila ada orang yang berjalan di jalur amat licin, tetapi tenang, tegar, tidak pernah dihantui ketakutan, dan bahkan berani mengancam orang lain.

Piramid bagian atas dari skandal bank Bali,  dihuni oleh manusia-manusia jenis terakhir. Orang-orang seperti ini, kala berada di kursi pemimpin, memang akan mendemokratisasikan banyak hal. Dan yang paling menonjol, meminjam argumennya Syahrir, mendemokratisasikan korupsi. Wajah korupsi, sebagaimana kita alami sekarang-sekarang ini, memang hingar bingar. Kalau di zaman orde baru, korupsi dilakukan secara tersembunyi, tidak ada yang berani malu mengembalikan uang jarahan. Di zaman reformasi ini, uang jarahan dikembalikan di depan umum,  oknum yang sudah jelas-jelas tidak mengenal malu akan korupsi, justru berdiri pongah dengan bintang maha puteranya.

Inilah zaman yang amat licin. Demikian licinnya, sampai-sampai publik terpeleset dengan banyak sekali kebingungan. Hari ini Rudy Ramli mengumumkan catatan harian, beberapa minggu kemudian dibantah dengan surat bermeterai yang diumumkan mensesneg. Tak lama kemudian, di depan anggota DPR yang terhormat, surat bantahan terakhir tidak diakui oleh Rudy Ramli sendiri.

Hebohnya, segala bentuk kelicinan tadi semuanya dilakukan oleh piramida atas kekuasaan negeri ini. Persis seperti akronim bali (bagian atas licin), negeri ini bagian atasnya diisi sebagian oleh manusia-manusia berlidah dan bermulut licin.

Namun, dengan kepala sedikit jernih perlu dicermati, nasib kita sebagai bangsa tidak ditentukan oleh orang-orang yang kita lengserkan, namun didikte oleh manusia yang kita biarkan bertahan di atas.

Belajar dari sini, dibandingkan teramat sibuk melengserkan orang pasca Suharto, akan jauh lebih berguna dan produktif memikirkan manusia yang akan kita angkat.

Saya menghargai sekali rekan-rekan yang berjuang keras menuntaskan skandal bank Bali. Apa lagi rekan lain yang punya misi membersihkan negeri ini dari korupsi. Namun jangan pernah lupa, nasib kita lebih banyak ditentukan oleh orang-orang yang tidak kita lengserkan dari atas.

Bila agenda  diskursus publik kita dihabiskan hanya untuk melengserkan orang, jangan-jangan kita akan berputar di lingkaran sejarah yang sama. Melengserkan orang, melengserkan orang dan terus menerus melengserkan orang. Betapa licinnya sejarah bangsa ini. Sama licinnya dengan skandal bank Bali.