jump to navigation

Kisah Sesendok Madu March 5, 1995

Posted by lenterahati in Lentera Hati, Uncategorized.
trackback

Alkisah, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran warga kotanya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan, membawa sesendok madu untuk dituangkan ke dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit di tengah kota. Seluruh warga pun memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya.

Tetapi, dalam pikiran sorang warga kota (katakanlah Si A) terlintas suatu cara untuk mengelak, “Aku akan membawa sesendok penuh tetapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mata seseorang. Sesendok air pun tidak akan mempengaruhi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga kota.”

Tibalah waktu yang telah ditetapkan. Apa yang kemudian terjadi? Bejana ternyata terisi seluruhnya oleh air. Rupanya, semua warga kota berpikiran sama dengan Si A. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.

Kisah simbolik ini dapat terjadi, bahkan mungkin telah sering terjadi, dalam berbagai masyarakat manusia. Dari sini wajar jika agama, khususnya Islam, memberikan petunjuk-petunjuk agar kejadian di atas tidak terjadi: Katakanlah (Hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Alloh disertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yang mengikutiku (QS 12:108).

Dalam redaksi ayat di atas tercermin bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian dia melibatkan pengikut-pengikutnya.

Berperang atau berjuang di jalan Alloh tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri, dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin (pengikut-pengikutmu) (QS 4:8).

Perhatikanlah kata-kata “tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri.” Nabi Muhammad saw. Pernah bersabda: “Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu.” Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin dan bertanggungjawab atas yang dipimpinnya, ini berarti bahwa setiap orang harus tampil terlebih dahulu. Sikap mental yang demikian inilah yang dapat menjadikan bejana Sang Raja penuh dengan madu bukan air, apalagi racun.

Dari: Lentera Hati, karya M. Quraish Shihab. Penerbit: Mizan

%d bloggers like this: