jump to navigation

Hikmah Dibalik Pergantian Tahun March 6, 1995

Posted by lenterahati in Lentera Hati, Uncategorized.
comments closed

Hari demi hari berlalu. Demikian juga minggu, bulan, dan tahun. Kita, baik sebagai individu maupun masyarakat , dalam hari-hari yang berlalu itu, senantiasa mengisi lembaran-lembaran yang setiap tahun kita tutup untuk kemudian kita buka kembali dengan lembaran baru pada tahun berikutnya. Lembaran-lembaran itu adalah sejarah hidup kita secara amat rinci, dan itulah kelak yang akan disodorkan kepada kita – sebagai individu dan masyarakat – untuk dibaca dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah pada Hari Kemudian nanti.

Bacalah lembaran (kitabmu), cukuplah engkau sendiri hari ini yang akan melakukan perhitungan atas dirimu (QS 17:14). Engkau akan melihat setiap umat berlutut, setiap umat diajak untuk membaca kitab amalan (sejarahnya) (QS 45:28).

Al Quran adalah buku pertama yang menegaskan bahwa bukan hanya individu, tetapi juga bangsa dan masyarakat, mempunyai hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang mengarahkan dan menentukan keruntuhan dan kebangkitannya. Masyarakat terdiri dari individu-individu , dan manusia sebagai individu mempunyai potensi untukmengarahkan masyarakat dan diarahkan olehnya. Karena itu, manusia sebagai individu dan manusia sebagai kelompok masyarakat bertanggung jawab atas dirinya dan atas masyarakatnya. Dari sinilah lahir apa yang dikenal dalam istilah hukum Islam sebagai fardhu ain dan fardhu kifayah.

Tuhan tidak mengubah keadaan suatu masyarakat , sebelum mereka mengubah (terlebih dahulu) sikap mental mereka (QS 13:11). Begitu bunyi sebuah ayat yang menafikan secara tegas ketentuan ekonomi sejarah dan secara tegas pula menempatkan sikap terdalam manusia sebagi faktor penentu kelahiran sejarah. Dari sini dapat dipahami, mengapa para Nabi memulai langkah mereka dengan menanamkan kesadaran terdalam itu dalam jiwa umat. Darimana Anda Datang? Kemana Anda menuju? Bagaimana alam ini mewujud dan ke arah mana ia bergerak? “Semua dari Allah dan akan kembali kepada-Nya” dan “Akhir dari segala siklus adalah kemablinya kepermulaan”, demikian para sufi dan filosof Muslim merumuskan.

Itulah kesadaran pertama yang ditanamkan pada manusia. Kemudian disusul dengan kesadaran jenis kedua, yaitu kesadaran akan kemanusiaan manusia serta kehormatannya. Ruh Ilahi dan potensi berpengetahuan yang diperoleh makhluk ini dari Tuhan, mengundangnya untuk memanusiakan dirinya dengan jalan mengaktualkan pada dirinya sifat-sifat Ilahi sesuai dengan kemampuannya. Dan kesadaran ketiga yang ditanamkannya adalah kesadaran akan tanggung jawab sosial.

Mengapa kalian tidak berjuang di jalan Allah, sedangkan kaum lemah tertindas, baik lelaki, wanita, maupun anak-anak bermohon agar mereka dikaruniai penolong dan pelindung dari sisi Allah, demikian pesan Al Quran surah Al Nisa ayat 75.

Ayat diatas mengandung dua nilai keruhanian, yakni keniscayaan berjuang di jalan Allah dan tanggung jawab melindungi kaum lemah.

Perjuangan yang dilakukan karena Allah dan yang digerakkan oleh nilai-nilai suci itulah yang memajukan umat manusia dan peradabannya sekaligus mengukir sejarahnya dengan tinta emas.

Nah, kalau manusia atau masyarakat mampu mengisi hari-hari yang berlalu dalam hidupnya atas dasar kesadaran di atas, maka disanalah dia memperoleh kebahagiaan abadi. Dalam hal ini Al Quran menegaskan: Mereka itulah yang akan menerima lembaran sejarah hidupnya dengan tangan kanannya (QS 17:71).

Dikutip dari buku “Lentera Hati”: Kisah dan Hikmah Kehidupan”, oleh M. Quraish Shihab, Penerbin Mizan, Maret 1995

Advertisements

Kisah Sesendok Madu March 5, 1995

Posted by lenterahati in Lentera Hati, Uncategorized.
comments closed

Alkisah, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran warga kotanya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan, membawa sesendok madu untuk dituangkan ke dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit di tengah kota. Seluruh warga pun memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya.

Tetapi, dalam pikiran sorang warga kota (katakanlah Si A) terlintas suatu cara untuk mengelak, “Aku akan membawa sesendok penuh tetapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mata seseorang. Sesendok air pun tidak akan mempengaruhi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga kota.”

Tibalah waktu yang telah ditetapkan. Apa yang kemudian terjadi? Bejana ternyata terisi seluruhnya oleh air. Rupanya, semua warga kota berpikiran sama dengan Si A. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.

Kisah simbolik ini dapat terjadi, bahkan mungkin telah sering terjadi, dalam berbagai masyarakat manusia. Dari sini wajar jika agama, khususnya Islam, memberikan petunjuk-petunjuk agar kejadian di atas tidak terjadi: Katakanlah (Hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Alloh disertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yang mengikutiku (QS 12:108).

Dalam redaksi ayat di atas tercermin bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian dia melibatkan pengikut-pengikutnya.

Berperang atau berjuang di jalan Alloh tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri, dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin (pengikut-pengikutmu) (QS 4:8).

Perhatikanlah kata-kata “tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri.” Nabi Muhammad saw. Pernah bersabda: “Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu.” Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin dan bertanggungjawab atas yang dipimpinnya, ini berarti bahwa setiap orang harus tampil terlebih dahulu. Sikap mental yang demikian inilah yang dapat menjadikan bejana Sang Raja penuh dengan madu bukan air, apalagi racun.

Dari: Lentera Hati, karya M. Quraish Shihab. Penerbit: Mizan

Menyambung Tali Yang Putus March 5, 1995

Posted by lenterahati in Lentera Hati, Uncategorized.
comments closed

Setiap kali menjelang Idul Fitri, arus mudik sedemikian besar. Banyak penduduk kota yang kembali ke kampung halamannya, besilaturahim sambil berlibur, bernostalgia, bahkan mungkin juga -sebagaimana disinyalir beberapa pengamat- memamerkan sukses yang telah diraih di kota. Ide mudik sendiri, selama dikaitkan dengan silaturahim, merupakan ajaran yang dianjurkan oleh agama. Hal ini dapat dilihat dari akar kata dan pengertian silaturahim.

Silaturahim adalah kata majemuk yang terambil dari kata shilat dan rahim . Kata shilat berakar dari kata yang berarti “menyambung” dan “menghimpun”. Ini berarti bahwa hanya yang putus dan yang terseraklah yang dituju oleh kata shilat. Sedangkan kata rahim pada mulanya berarti “kasih sayang” kemudian berkembang sehingga berarti la “peranakan” (kandungan), karena anak yang dikandung selalu mendapatkan curahan kasih sayang.

Tidak jarang hubungana ntara mereka yang berada di kota dan di kampung sedemikian renggang -bahkan terputus- akibat berbagai faktor. Dan dengan mudik yang bermotifkan silaturahim ini akan terjalin lagi hubungan tersebut; akan tersambung kembali yang selama ini putus serta terhimpun apa yang terserak . Yang demikian inilah yang dinalamakn hakikat silaturahim. Nabi SAW bersabda: “Tidak bersilaturahim (namanya) orang yang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi (dinamakan bersilaturahin adalah) yang menyambung apa yang putus” (Hadis Riwayat Bukhari).

Itulah puncak silaturahim, yang dapat diwujudkan oleh mereka yang mudik dan juga oleh mereka yang tetap tinggal di kota bila ia berusaha mengingat-ngingat siap yang hatinya pernah terluka oleh ulahnya atau yang selama ini jarang dikunjungi karena kesibukannya. Mudik dan kunjungan seperti inilah yang dinamakan dengan menyambung kembali yang putus, menghangatkan, dan bahkan mencairkan yang beku.

Sungguh baik jika ketika kita mudik, atau berkunjung, kita membawa sesuatu -walaupun kecil- karena itulah salah satu bukti yang paling kongkrit dari rahmat dan kasih sayang. dari sinilah kata shilat diartikan pula sebagai “pemberian”. Dan tidak ada salahnya seorang yang mudik menampakkan sukses yang diraih selama ini asalkan tidak mengandung unsur pamer, berbangga-bangga, dan pemborosan. Lebih-lebih jika yang demikian itu akan mengantar kepada kecemburuan sosial. Menampakkan sukses dapat merupakan salah satu cara mensyukuri nikmat Allah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:” Allah senang melihat nikmatnya (ditampakkan) oleh hamba-Nya”.

Adapun nikmat Tuhanmu maka ucapkan (sampaikanlah) (QS 93:11). Sebagian musafir memahami ayat ini sebagai perintah untuk menyampaikan kepada orang lain dalam bentuk ucapan atau sikap betapa besar nikmat Allah yang telah diraihnya. Mudik berlebaran adalah hari gembira yang berganda; gembira karena lebaran dan gembira karena pertemuan. Disini setiap yang mudik hendaknya merenungkan pesan Ilahi:”Jangan bergembira melampaui batas terhadap apa yang dianugerahkan (Tuhan) kepadamu, (kegembiraan yang mengantar kepada keangkuhan dan lupa diri). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (QS 57:23).

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari silaturahim yang telah kita lakukan.

Dikutip dari buku “Lentera Hati”: Kisah dan Hikmah Kehidupan”, oleh M. Quraish Shihab, Penerbin Mizan, Maret 1995