Cinta Laki-laki Biasa July 15, 2005
Posted by lenterahati in Cerpen, Uncategorized.2 comments
Asma Nadia - MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
“Kenapa?” tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt.Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
“Kamu pasti bercanda!”
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Seni Hidup June 20, 2005
Posted by lenterahati in Anonymous, Cerpen, Lentera Hati, Uncategorized.comments closed
Setiap orang mencari kedamaian dan keharmonisan, karena inilah yang kurang dalam kehidupan kita. Dari saat ke saat kita mengalami kegelisahan, kejengkelan, ke-tidak-harmonisan, penderitaan. Saat seorang gelisah, ia juga menyebarkan penderitaan tersebut kepada orang lain - kegelisahan merembes keluar dari orang yang menderita ke sekelilingnya. Sehingga setiap orang yang berhubungan dengannya ikut menjadi jengkel dan gelisah. Tentu ini bukan cara hidup yang baik.
Seseorang harus hidup damai dengan dirinya sendiri dan juga dengan yang lain. Bagaimanapun manusia adalah makhluk sosial, ia harus hidup dan berhubungan dengan masyarakat. Bagaimana kita bisa hidup damai? Bagaimana tetap harmonis dengan diri sendiri dan juga masyarakat sekitarnya sehingga orang lain bisa hidup damai dan harmonis?
Seseorang gelisah. Untuk keluar dari kegelisahan, ia harus mengetahui alasan dasar atau sebab dari kegelisahannya. Bila ia menyelidiki masalah tersebut, akan jelas bahwa pada saat ia mulai membangkitkan kekotoran dalam batin atau pikiran, ia pasti menjadi gelisah. Pikiran yang tidak murni dan kotor tidak dapat hadir bersamaan dengan kedamaian dan keharmonisan.
Dua Hati October 20, 1992
Posted by lenterahati in Cerpen, Uncategorized.comments closed
Melinda meremas-remas rambutnya. Fuh! Pusing kepalanya melihat berkas-berkas yang menumpuk di depan matanya. Meja kerjanya benar-benar seperti dilanda topan. Dengan malas perempuan bertubuh semampai itu bangkit. Dibukanya tirai dan berdiri mematung di depan jendela. Kesibukan malam di jantung kota Jakarta bisa dilihatnya dengan jelas.
Bosan, keluh Melinda dalam hati. Dari hari ke hari hidup ini dirasakannya begitu menjemukan. Perempuan itu tersenyum. Getir. Dalam kesendirian, tiba-tiba ia merasa begitu rapuh. Sosok wanita karier yang sukses dan sedang naik daun lenyap begitu saja.
Melinda menghela nafas. Sekarang sudah masuk pekan kedua bulan Maret. Rangkaian acara tema Derap Emansipasi Wanita Indonesia atau DEWI untuk menyambut Hari Kartini sudah dirancangnya sedemikian rupa. Paling tidak 70 persen masa persiapan sudah ia rampungkan. Awak majalah Wanita benar-benar bekerja keras siang dan malam. Promosi sudah dilemparkan kepada publik. Berbagai pihak sudah ia hubungi. Tapi…Aaah. Entah kenapa hatinya kadang-kadang berkata lain. Ada sesuatu yang dirasakannya begitu berat.
Melinda melihat jam tangannya. Hampir pukul 9. Ia harus mencek bagian fotografi untuk memastikan kehadiran gadis-gadis model yang baru. Setelah berkaca sejenak, ia segera keluar. Keluar dari lift, mata Melinda langsung melihat tubuh-tubuh yang dibungkus pakaian gemerlapan. Gadis- gadis yang doyan pamer aurat itu sedang bercanda ria di depan studio. Melinda terus melangkah menuju ruang pemotretan. Mendadak kakinya terhenti mendengar celotehan gadis-gadis model itu.
“Apa? Aida sudah balik ke Jakarta?”
“Aida Yusuf? Apa? Masak sih?”
Lalu terdengar suara cekikikan.
Aida? Kening Melinda berkerut. Tiba-tiba matanya berbinar. Perempuan itu memutar tubuhnya menuju lift. Setelah menunggu beberapa detik, pintu lift terbuka. Melinda bersandar pada dinding lift. Terbayang di depan wajahnya sosok Aida. Delapan tahun yang lalu, Aida pernah juara dalam kontes Gadis Masa Kini di majalah Wanita. Saat itu ia masih menjadi penanggung jawab rubrik. Ah, ia kenal betul dengan Aida. Cantik, cerdas, dan supel. Sebelum ia terbang ke Paris, wajah dan gayanya banyak menghiasi majalah-majalah ibukota.
Aku harus bergerak cepat, pikir Melinda. Kalau tidak, kesempatan emas ini akan disambar orang lain.
Begitu sampai di ruang kerjanya, Pemimpin Redaksi majalah Wanita itu langsung menyambar telepon.
“Halo? Lia, tolong cari informasi tentang Aida. Segera!”
“Aida Yusuf, Bu?”
“Ya, saya tunggu.”
“Tapi Bu…”
“Kamu ini bagaimana? Ini masalah penting!”
“Baik Bu…” suara Lia terdengar gugup.
* * * *
Melinda menatap rumah mungil nan asri di depannya. Sekali lagi dilihatnya secarik kertas yang dipegangnya. Cocok. Tanpa ragu ia memasuki halaman rumah tak berpagar itu. Setelah mengunci pintu BMW nya.
Ting-tong! Ting-tong!
Dari dalam rumah terdengar suara langkah tergesa. Kemudian pintu terbuka. “Ooo… saya pikir Non Aida,” seorang perempuan setengah baya tersenyum lebar memandang wajah Melinda. “Cari siapa, ya?”
“Saya temannya Aida, Bi.”
“Non Aida sedang mengantar Ahmad ke TQ. Nngg…sebentar lagi pulang,” si Bibi tersenyum.
“Silakan duduk dulu!”
Ahmad? TQ? Kening Melinda berkerut. Pikiran Melinda masih diliputi tanda tanya ketika si Bibi datang menawarkan minuman. Ia hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian diam membisu.
Beberapa saat kemudian sebuah Honda Accord meluncur masuk dan berhenti di samping teras tempat Melinda duduk. Perempuan itu bangkit untuk melihat siapa yang datang. Pintu mobil terbuka. Sorang bocah berseragam hijau muda turun dengan riang. Gemas juga hati Melinda mendengar celotehan anak kecil itu. Namun perhatiannya segera beralih kepada perempuan berkerudung putih yang sedang mengunci pintu mobil. Melinda menatap tak percaya. Aida? Itu Aida?
* * * *
“Aku datang sebagai sahabat, Aida,” Melinda menatap mata sebening telaga wanita berjilbab di sampingnya. “Ceritamu ini tidak akan kujadikan obyek berita majalahku. Sungguh.” Aida menahan nafasnya. Ini kali yang ketiga Melinda datang menemuinya. Hatinya agak ragu. Namun melihat keseriusan wanita itu, akhirnya ia mengalah.
“Dua tahun setelah kepergianku ke Paris, Papa meninggal.” Suara Aida terdengar sendu. “Sejak itu aku seperti kehilangan identitas diri. Aku begitu mencintai Papa.” Aida tertunduk. Berat rasanya menceritakan masa lalu yang telah lama terkubur.
Mama mendesakku untuk kembali ke Paris. Aku menolak. Tapi Mama terus membujuk. Akupun berangkat dengan hati galau. Tiga bulan pertama aku masih bisa bertahan. Namun setelah itu, diriku hanyut entah kemana. Nyaris aku tenggelam dalam obat bius. Alhamdulillah, aku segera tersadar kalau semua itu hanyalah pelarian belaka.
Suatu malam, Michelle datang ke apartemenku. Temanku di sekolah mode itu bicara macam-macam. Memang begitu tingkahnya setiap kali bertamu. Pembicaraan akhirnya lari pada soal emansipasi. Ia memuji-muji wanita barat yang berani menuntut haknya. Kemudian menyindir wanita-wanita timur yang dinilainya kurang agresif. Dengan sikap jijik ia mencela wanita-wanita Eropa yang sudah terkena “virus” Islam yang dikatakannya kolot. Kebetulan saat itu sedang hangat-hangatnya demonstrasi jilbab. Aku melihat sendiri wanita-wanita berjilbab itu memenuhi jalan. Michelle mencela mereka habis- habisan.
Tentu saja aku tersinggung, Mbak. Bagaimanapun aku tetap seorang Muslimah. Ketika aku menyatakan hal itu, Michelle terkejut. Ia mengira aku bukan orang Islam. Ia tidak pernah melihatku shalat atau apalah yang menunjukkan keislamanku.
Aku tercenung. Shalat? Berdo’a saja rasanya amat jarang kulakukan. Hari-hari selanjutnya kugunakan untuk merenung. Lalu sebuah dorongan kuat “memaksaku” untuk memberi salam seorang wanita berjilbab di perpustakaan umum. Kami berkenalan, dan segera menjadi akrab. Ia banyak bertanya tentang muslimah Indonesia. Aku cerita apa adanya sekadar yang aku tahu. Sarah, wanita asal Inggris itu, mengajakku menghadiri pertemuan-pertemuan yang membahas masalah keislaman. Aku sangat tertarik dan kagum. Mereka begitu gigih mempertahankan identitas.
Aku mulai shalat. Pertama kali air wudlu menyentuh wajahku, kurasakan kesejukan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Air mataku mengalir deras dalam ruku’ dan sujud. Dua bulan kemudian kutinggalkan sekolah mode. Dan dengan penuh kesadaran kukenakan busana muslimah. Mula-mula memang rikuh Mbak. Tapi aku yakin pada jalan yang kutempuh.
Ketika Mama datang berkunjung, ia sangat terkejut. Menangis-nangis ia memintaku untuk melepaskan kerudung. Dengan halus aku menolak. Dan untuk yang satu ini aku tidak bersedia mengalah. Mama pulang dengan hati remuk.
Atas saran teman-teman dekatku, aku pulang. Namun aku tidak langsung ke Jakarta. “Mama tidak mau menerima kepulanganku”. Aida tersenyum. “Ketika pesawat transit di Singapura, aku menelpon pamanku yang tinggal di Palembang. Alhamdulillah, paman bisa dan sangat memahami keadaanku. Aku tinggal di kota itu dengan aman.”
“Lalu kau menikah di sana?”
“Ketika seorang ikh…maksudku, seorang laki-laki datang menemui pa- manku….” kata-kata Aida mengambang di udara. “Maaf Mbak. Ini sangat pribadi.” Melinda tertawa kecil. Ia tidak mengerti maksud Aida.
“Kapan tiba di Jakarta?”
“Awal bulan ini.” Aida membetulkan letak kerudungnya. “Mama yang memintaku. Setelah si kecil Fatiya lahir, hati Mama terbuka. Ia merasa kesepian setelah kakak dan adikku sibuk dengan urusannya masing-masing. Suamiku setuju saja. Ia sendiri berasal dari Jakarta.”
“Kau tidak menyesal, Aida? Kau kubur masa depanmu sendiri?”
Aida menatap Melinda dalam-dalam.
“Aku tidak akan sanggup menukar kebahagiaan yang dilimpahkan Allah saat ini dengan kehidupan semu. Jalan yang kulalui begitu terang. Dan aku tidak mau terseret dalam kegelapan. Aku bersyukur, Mbak, bisa menjadi istri dan ibu.” Melinda memalingkan wajahnya. Wanita itu menatap daun-daun mawar dengan pandangan kosong.
* * * *
Angin membelai wajah Melinda, ketika wanita itu membuka sebuah kisi jendela. Dari kamar hotel berbintang lima itu ia mengintip kehidupan malam Jakarta. Kebiasaan yang kerap ia lakukan di ruang kerjanya.
Beberapa saat lamanya wanita itu berdiri termangu. Tadi pagi ia melihat Aida di Cibodas. Bahagia sekali Aida ketika memimpin serombongan anak-anak berseragam hijau muda turun dari bis. Ingin rasanya ia menemui Aida. Tapi ia sendiri sedang sibuk memberi instruksi. Beberapa orang model akan diambil gambarnya untuk cover Wanita.
Melinda tersenyum pahit. Ia benar-benar cemburu saat itu. Aida… Aku mungkin tak sejujur engkau dalam memandang hidup ini. Aku mungkin tidak mampu melepaskan apa yang aku miliki saat ini. Kita memang berbeda.
Tok! Tok!
“Yaa, masuk!” Melinda tersentak.
“Maaf, Bu, orang-orang sudah menunggu di loby.” Lia muncul dari balik pintu.
“Oke saya segera turun.” Melinda menyibakkan rambutnya. “Kau temui mereka dulu.”
Melinda segera mematut diri. Ia harus tampil sempurna dalam acara pembukaan ini. Kemudian wanita itu segera keluar menyambut para undangan de- ngan senyum dan gaya ceria. Namun sinar matanya tidak mampu menyembunyikan kepedihan hatinya…
Ulul ‘Azmi
Majalah Sabili No.4/th.V/6-19 Oktober 1992
